logo

100 Soal UKOM Retaker Perawat & Bidan: Latihan Intensif Khusus Peserta Ulang

Tim Akademik Penulis Edu Corner
24 Jun 2026
8 Views

Tidak lulus UKOM pertama kali bukan akhir dari perjalanan — dan bukan berarti kompetensi Anda diragukan. Data historis menunjukkan bahwa sebagian peserta retaker justru memiliki pemahaman klinis yang lebih matang karena sudah melewati satu siklus ujian sebelumnya. Yang perlu dibenahi bukan hanya penguasaan materi, melainkan juga strategi menjawab soal vignette yang berpola khas UKOM. Set latihan ini menyajikan 100 soal UKOM retaker — 60 soal untuk D3 Keperawatan dan 40 soal untuk D3 Kebidanan — dalam format vignette berbasis skenario klinis, dilengkapi kunci jawaban dan rasional yang menjelaskan mengapa suatu opsi benar dan mengapa opsi lain tidak dipilih.

Distribusi 100 Soal Latihan

D3 Keperawatan

  • Keperawatan Medikal Bedah — 20 soal

  • Keperawatan Maternitas — 10 soal

  • Keperawatan Anak — 8 soal

  • Keperawatan Jiwa — 8 soal

  • Kegawatdaruratan & Kritis — 6 soal

  • Keperawatan Gerontik — 4 soal

  • Komunitas, Keluarga & Manajemen — 4 soal

D3 Kebidanan

  • Asuhan Kehamilan & Antenatal — 10 soal

  • Asuhan Persalinan (Intrapartum) — 10 soal

  • Asuhan Nifas & Postpartum — 8 soal

  • Bayi Baru Lahir & Neonatus — 6 soal

  • Keluarga Berencana — 4 soal

  • Kegawatdaruratan Kebidanan — 2 soal

Catatan: Proporsi distribusi di atas merupakan pendekatan latihan yang dirancang untuk mencakup area-area yang lazim diujikan. Distribusi resmi blueprint UKOM dapat berubah setiap periode. Peserta retaker wajib memverifikasi blueprint terkini melalui portal resmi ukomperawat.kemdiktisaintek.go.id (untuk perawat) atau ukomners.kemdiktisaintek.go.id (untuk Ners).

BAGIAN I: Soal Keperawatan D3 Keperawatan (Soal 1–60)

A. Keperawatan Medikal Bedah (Soal 1–20)


Soal 1 Seorang laki-laki berusia 58 tahun dirawat di bangsal interna dengan keluhan sesak napas yang memberat sejak dua hari lalu. Hasil pengkajian: frekuensi napas 28x/menit, SpO₂ 88%, terdengar ronkhi basah halus di seluruh lapang paru, edema pitting derajat III pada kedua tungkai. Riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 sejak 10 tahun. Tekanan darah 150/90 mmHg.

Apakah diagnosis keperawatan prioritas pada pasien tersebut?

  • A. Hipervolemia berhubungan dengan kelebihan asupan cairan

  • B. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi

  • C. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas

  • D. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen

  • E. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik

Jawaban: B Rasional: SpO₂ 88% dan ronkhi bilateral mengindikasikan gangguan pertukaran gas akibat edema paru — manifestasi gagal jantung kongestif. Berdasarkan hierarki prioritas kebutuhan (airway/breathing), masalah oksigenasi yang mengancam jiwa harus ditangani sebelum masalah sirkulasi (hipervolemia) maupun masalah fungsional lainnya.


Soal 2 Seorang perempuan berusia 45 tahun masuk IGD dengan keluhan nyeri dada kiri menjalar ke lengan kiri sejak 30 menit yang lalu, disertai keringat dingin dan mual. Tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 110x/menit, frekuensi napas 24x/menit. Perawat telah memberikan O₂ 3 lpm via nasal kanul.

Apakah tindakan keperawatan paling tepat yang selanjutnya dilakukan?

  • A. Memasang IV line dan mengambil sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium

  • B. Memberikan nitrogliserin sublingual sesuai instruksi dokter

  • C. Merekam EKG 12 sadapan

  • D. Memposisikan pasien semi-Fowler

  • E. Memberikan aspirin sesuai instruksi dokter

Jawaban: C Rasional: Pada kecurigaan ACS/STEMI, perekaman EKG 12 sadapan adalah prioritas diagnostik yang harus diselesaikan dalam <10 menit sejak kedatangan pasien. Hasil EKG menentukan penanganan definitif (fibrinolisis, PCI, dsb). O₂ sudah diberikan, sehingga langkah berikutnya yang paling mendesak adalah konfirmasi diagnostik elektrokardiografi.


Soal 3 Seorang laki-laki 62 tahun dengan DM tipe 2 tidak terkontrol (GDS 320 mg/dL) mengeluh kesemutan dan rasa terbakar di kedua telapak kaki. Terdapat luka terbuka berdiameter 2 cm di tumit kanan: dasar luka berwarna kuning, berbau, tidak ada jaringan granulasi.

Apakah masalah keperawatan yang harus ditangani pertama?

  • A. Nyeri kronis berhubungan dengan agens pencedera fisiologis

  • B. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status nutrisi

  • C. Risiko infeksi berhubungan dengan kerusakan barier kulit

  • D. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi

  • E. Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan resistensi insulin

Jawaban: C Rasional: Luka dengan slough (dasar kuning), berbau, dan tanpa granulasi menandakan kolonisasi/infeksi bakteri aktif. Pada pasien dengan imunosupresi relatif akibat hiperglikemia, risiko progresi ke sepsis sangat tinggi. Ini adalah ancaman jiwa yang mendahului masalah nyeri atau edukasi.


Soal 4 Seorang perempuan 50 tahun dirawat hari ke-3 pasca operasi kolesistektomi laparoskopi. Mengeluh nyeri di sekitar luka skala 5/10, perut kembung, belum flatus dan BAB sejak operasi. Bising usus 2x/menit. Program diit masih cair TKTP.

Intervensi keperawatan yang paling tepat untuk mengatasi masalah gastrointestinal tersebut adalah…

  • A. Memberikan obat laksatif sesuai advis dokter

  • B. Menganjurkan pasien melakukan ambulasi dini secara bertahap

  • C. Menaikkan program diit ke makanan lunak

  • D. Memasang NGT untuk dekompresi

  • E. Memberikan kompres hangat pada abdomen

Jawaban: B Rasional: Ambulasi dini adalah intervensi non-farmakologis mandiri keperawatan yang terbukti paling efektif merangsang peristaltik dan mencegah ileus paralitik pasca operasi abdominal. Gerak fisik mengaktifkan motilitas usus melalui stimulasi mekanis dan refleks neural. Ini lebih prioritas dan lebih aman dilakukan sebelum eskalasi farmakologis atau dietik.


Soal 5 Seorang laki-laki 40 tahun dengan CKD stage V menjalani hemodialisis 2x seminggu. BB sebelum HD 68 kg, setelah HD 65 kg. Restriksi cairan 800 mL/hari. Pasien menyampaikan sering merasa sangat haus dan sulit membatasi minum.

Edukasi yang paling tepat diberikan kepada pasien adalah…

  • A. Minum hanya saat rasa haus sudah tidak tertahankan

  • B. Mengganti air putih dengan susu untuk nutrisi lebih baik

  • C. Mengajarkan teknik mengatasi haus: berkumur, mengisap es batu kecil, mengonsumsi permen asam tanpa gula

  • D. Menjelaskan bahwa restriksi cairan tidak perlu ketat asal HD rutin

  • E. Mengonsumsi minuman elektrolit untuk menggantikan cairan yang hilang saat HD

Jawaban: C Rasional: Pasien CKD dengan restriksi ketat memerlukan strategi praktis untuk meredakan sensasi haus tanpa melanggar batas intake. Berkumur dan mengisap es batu kecil (dihitung ½ volume es sebagai cairan) merangsang produksi saliva sehingga efektif meredakan xerostomia. Susu (B) mengandung kalium dan fosfat tinggi yang berbahaya pada CKD. Minuman elektrolit (E) justru menambah beban ginjal.


Soal 6 Seorang perempuan berusia 35 tahun dirawat dengan gastritis erosif, mengeluh nyeri epigastrium seperti terbakar skala 6/10. Perawat melakukan pengkajian nyeri menggunakan metode PQRST.

Komponen "Q" dalam pengkajian PQRST menanyakan tentang…

  • A. Lokasi nyeri yang dirasakan pasien

  • B. Faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

  • C. Kualitas atau karakteristik nyeri (seperti: ditusuk, terbakar, diremas)

  • D. Kapan nyeri pertama kali muncul dan frekuensinya

  • E. Skala intensitas nyeri dari 0 hingga 10

Jawaban: C Rasional: PQRST: P = Provoking/Palliating (pencetus/pereda), Q = Quality (kualitas/karakter nyeri), R = Region/Radiation (lokasi/penjalaran), S = Severity (skala), T = Timing (waktu/pola). Menilai kualitas nyeri penting untuk membedakan nyeri somatik, viseral, dan neuropatik serta memandu diagnosis diferensial.


Soal 7 Seorang laki-laki 55 tahun dengan stroke iskemik dirawat hari ke-5. GCS E3V4M5. Terpasang NGT karena refleks menelan terganggu. Perawat akan memberikan makan via NGT pukul 12.00.

Tindakan pertama yang harus dilakukan perawat sebelum memberikan makan adalah…

  • A. Mengukur sisa lambung (gastric residual volume)

  • B. Memasang pengalas di dada pasien

  • C. Memflush NGT dengan 30 mL air hangat

  • D. Memverifikasi posisi NGT melalui aspirasi cairan lambung atau auskultasi

  • E. Menghangatkan formula makan hingga suhu ruangan

Jawaban: D Rasional: Verifikasi posisi NGT adalah langkah keselamatan pasien (patient safety) yang wajib dilakukan sebelum setiap pemberian nutrisi enteral, karena selang dapat bermigrasi tanpa disadari. Aspirasi cairan lambung berwarna hijau kekuningan atau auskultasi bunyi udara di epigastrium merupakan metode verifikasi dasar di tatanan klinis Indonesia.


Soal 8 Seorang perempuan 28 tahun dirawat dengan TB paru aktif BTA (+), sedang menjalani fase intensif OAT. Perawat mengajarkan etika batuk kepada pasien.

Manakah yang BUKAN termasuk etika batuk yang benar?

  • A. Menutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk

  • B. Membuang tisu bekas ke tempat sampah tertutup

  • C. Mencuci tangan setelah batuk

  • D. Menggunakan bagian dalam siku untuk menutup mulut jika tidak ada tisu

  • E. Memalingkan kepala ke arah orang lain saat batuk agar udara segar masuk

Jawaban: E Rasional: Memalingkan kepala ke arah orang lain saat batuk justru meningkatkan risiko transmisi droplet Mycobacterium tuberculosis kepada orang tersebut. Etika batuk yang benar bertujuan mencegah penyebaran droplet, bukan memindahkan arahnya. Pilihan A, B, C, dan D adalah komponen etika batuk yang tepat dan wajib diajarkan.


Soal 9 Seorang laki-laki 65 tahun dengan BPH dirawat pasca TURP hari pertama. Terpasang kateter 3-lumen dengan irigasi kandung kemih kontinyu (CBI). Perawat memperhatikan output urin berwarna merah segar dengan bekuan kecil, dan aliran irigasi tampak melambat.

Tindakan keperawatan yang paling tepat pertama kali adalah…

  • A. Melaporkan segera kepada dokter karena ini perdarahan aktif yang berbahaya

  • B. Meningkatkan kecepatan tetesan irigasi untuk membilas bekuan sebelum terjadi obstruksi

  • C. Menghentikan irigasi sementara dan melakukan bladder washout manual dengan spuit

  • D. Memijat area suprapubik untuk membantu pengeluaran bekuan

  • E. Melepas dan mengganti selang kateter dengan yang baru

Jawaban: B Rasional: Urin merah segar dengan bekuan kecil pada hari pertama pasca TURP masih dalam rentang yang dapat diantisipasi. Tujuan CBI adalah mencegah bekuan menyumbat kateter. Saat aliran mulai melambat akibat bekuan kecil, langkah pertama adalah meningkatkan kecepatan irigasi untuk membilas bekuan sebelum terjadi obstruksi total. Bladder washout manual (C) dilakukan bila obstruksi sudah terjadi dan irigasi tidak lagi berjalan.


Soal 10 Seorang perempuan 48 tahun didiagnosis hipertiroid. Mengeluh jantung berdebar, berkeringat banyak, berat badan turun 8 kg dalam 3 bulan meskipun nafsu makan meningkat, dan tremor halus pada kedua tangan.

Berdasarkan data di atas, diagnosis keperawatan yang paling tepat adalah…

  • A. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme

  • B. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan

  • C. Defisit nutrisi berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme

  • D. Risiko cedera berhubungan dengan kelemahan otot

  • E. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan berat badan

Jawaban: C Rasional: Pada hipertiroid, metabolisme basal meningkat drastis sehingga tubuh membakar energi jauh melebihi asupan meski nafsu makan meningkat. Masalahnya bukan ketidakmampuan mencerna (B), melainkan kebutuhan metabolisme yang melampaui kapasitas intake. Etiologi ini harus akurat karena menentukan arah intervensi: bukan memperbaiki pencernaan, melainkan meningkatkan asupan kalori dan mengelola hiperfungsi tiroid.


Soal 11 Seorang pasien laki-laki 72 tahun dirawat dengan pneumonia dan sedang mendapat infus ampisilin-sulbaktam. Tiba-tiba pasien mengeluh gatal di seluruh tubuh, muncul kemerahan di kulit, dan sesak napas mendadak. Tekanan darah turun menjadi 80/50 mmHg, nadi 120x/menit teraba lemah.

Urutan tindakan keperawatan yang paling tepat adalah…

  • A. Hentikan infus → Berikan antihistamin → Pasang O₂ → Hubungi dokter

  • B. Hubungi dokter → Hentikan infus → Berikan epinefrin → Pasang O₂

  • C. Hentikan infus → Pasang O₂ → Posisikan supine/Trendelenburg → Hubungi dokter segera

  • D. Pasang O₂ → Hentikan infus → Hubungi dokter → Catat tanda vital

  • E. Berikan epinefrin → Hentikan infus → Hubungi dokter → Pasang O₂

Jawaban: C Rasional: Ini adalah syok anafilaktik. Urutan prioritas mandiri perawat: (1) Hentikan agen penyebab (infus antibiotik) segera, (2) Berikan O₂ karena ada sesak berat, (3) Posisikan supine atau Trendelenburg untuk meningkatkan perfusi organ vital, (4) Hubungi dokter segera untuk pemberian epinefrin. Antihistamin (A) bukan lini pertama pada anafilaksis — epinefrin adalah antidotum utama, namun pemberiannya memerlukan instruksi dokter dalam konteks ini.


Soal 12 Perempuan 42 tahun dengan GEA (Gastroenteritis Akut). BAB cair 8-10x/hari sejak 2 hari, muntah 3x. Turgor kulit menurun, mukosa kering, mata cekung, BB turun 4 kg. Natrium 128 mEq/L, Kalium 3,1 mEq/L. Kesadaran compos mentis.

Apakah masalah keperawatan yang paling prioritas?

  • A. Diare berhubungan dengan inflamasi gastrointestinal

  • B. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif

  • C. Ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan

  • D. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi nutrisi

  • E. Mual berhubungan dengan iritasi lambung

Jawaban: B Rasional: Meskipun hiponatremia dan hipokalemia ada, tanda klinis mendominasi: penurunan BB ~7% dari BB awal, turgor menurun, mukosa kering, mata cekung — ini gambaran hipovolemia yang nyata. Pemenuhan volume cairan intravaskular adalah prioritas sirkulasi (komponen C dalam ABC) yang harus ditangani terlebih dahulu. Koreksi elektrolit mengikuti setelah status volume dipulihkan.


Soal 13 Seorang laki-laki 50 tahun dengan sirosis hepatis dirawat dengan perut membesar (asites), sklera ikterik, palmar eritema, spider nevi di dada. Albumin serum 2,1 g/dL.

Masalah keperawatan yang secara patofisiologis paling berkaitan dengan temuan albumin rendah ini adalah…

  • A. Gangguan pertukaran gas

  • B. Kerusakan integritas kulit

  • C. Hipervolemia

  • D. Defisit nutrisi

  • E. Gangguan eliminasi urin

Jawaban: C Rasional: Albumin berperan mempertahankan tekanan onkotik plasma. Hipoalbuminemia menyebabkan tekanan onkotik turun, sehingga cairan berpindah dari kompartemen intravaskular ke rongga ketiga (asites, edema perifer). Inilah mekanisme patofisiologi hipervolemia/asites pada sirosis. Memahami mekanisme ini penting agar intervensi tepat sasaran, bukan sekadar menangani simtom.


Soal 14 Seorang perempuan 38 tahun baru saja kembali ke ruangan dua jam pasca mastektomi radikal kanan. Terpasang drain Jackson-Pratt. Perawat melakukan monitoring pasca operasi.

Tanda mana yang paling mengkhawatirkan dan harus segera dilaporkan kepada dokter?

  • A. Pasien mengeluh nyeri skala 7 di area operasi

  • B. Produksi drain 200 mL dalam 2 jam pertama berwarna merah segar

  • C. Pasien belum mau makan minum apapun sejak operasi

  • D. Balutan primer tampak sedikit merembes

  • E. Pasien menangis dan terlihat sedih melihat area operasinya

Jawaban: B Rasional: Produksi drain Jackson-Pratt yang normal pada 24 jam pertama berkisar <50 mL/jam. Output 100 mL/jam (200 mL/2 jam) dengan warna merah segar mengindikasikan perdarahan aktif pasca operasi — ini adalah tanda bahaya yang memerlukan pelaporan segera. Nyeri (A) diantisipasi pasca bedah dan dikelola dengan analgesia. Respon emosional (E) penting diperhatikan namun bukan ancaman fisiologis akut.


Soal 15 Seorang laki-laki 45 tahun dengan DVT pada tungkai kanan mendapat terapi antikoagulan heparin IV. Perawat melakukan monitoring efek samping terapi.

Temuan mana yang menunjukkan efek samping serius dan harus segera dilaporkan?

  • A. Memar kecil di sekitar lokasi penusukan jarum

  • B. Nilai aPTT 80 detik (nilai normal 25-35 detik)

  • C. Hematuria makroskopis disertai penurunan tekanan darah

  • D. Nyeri ringan di area tungkai yang masih teraba keras

  • E. Pasien mengeluh mual setelah pemberian heparin

Jawaban: C Rasional: Hematuria makroskopis (darah terlihat jelas di urin) disertai penurunan tekanan darah mengindikasikan perdarahan internal yang signifikan — komplikasi antikoagulan yang mengancam jiwa. aPTT supra-terapeutik (B) memerlukan penyesuaian dosis, namun tanpa perdarahan aktif masih dapat dikelola secara bertahap. Kondisi C memerlukan penghentian heparin segera dan pertimbangan pemberian protamine sulfate sebagai antidotum.


Soal 16 Seorang perempuan 29 tahun dengan SLE flare dirawat. Mengeluh nyeri sendi di pergelangan tangan, siku, dan lutut skala 6/10. Rash butterfly malar (+), fotosensitivitas (+). Mendapat kortikosteroid dan antimalaria.

Edukasi yang paling penting terkait aktivitas dan paparan lingkungan adalah…

  • A. Menghindari semua aktivitas fisik sampai gejala membaik sepenuhnya

  • B. Menggunakan tabir surya SPF 30+ dan pakaian pelindung setiap kali keluar rumah

  • C. Mengonsumsi suplemen kalsium tanpa berkonsultasi dokter

  • D. Berhenti minum steroid jika sudah merasa membaik untuk mencegah ketergantungan

  • E. Mandi air dingin setiap hari untuk meredakan peradangan

Jawaban: B Rasional: Fotosensitivitas adalah manifestasi khas SLE yang diakui dalam kriteria SLICC. Paparan sinar UV dapat mencetuskan atau memperburuk flare. Tabir surya SPF 30+ dan pakaian pelindung adalah intervensi pencegahan mandiri yang esensial. Menghentikan kortikosteroid secara tiba-tiba (D) sangat berbahaya karena dapat memicu insufisiensi adrenal — edukasi ini harus diprioritaskan sebagai koreksi miskonsepsi pasien.


Soal 17 Pasien laki-laki 58 tahun dengan PPOK sedang stabil mendapat terapi inhaler MDI (Metered Dose Inhaler) dengan bronkodilator LAMA dan LABA.

Teknik penggunaan inhaler MDI yang benar adalah…

  • A. Kocok inhaler, tarik napas dalam, semprotkan bersamaan dengan menarik napas cepat, tahan napas 3 detik

  • B. Kocok inhaler, ekspirasi penuh, letakkan mouthpiece rapat di bibir, semprotkan bersamaan dengan inspirasi lambat dan dalam, tahan napas 10 detik

  • C. Semprotkan langsung ke mulut terbuka tanpa menarik napas terlebih dahulu

  • D. Tarik napas dalam terlebih dahulu, tahan, kemudian baru semprotkan ke mulut

  • E. Semprotkan ke udara sebagai test dose, kemudian gunakan seperti biasa

Jawaban: B Rasional: Teknik MDI yang tepat: (1) Kocok inhaler, (2) Ekspirasi penuh untuk mengosongkan paru, (3) Pasang mouthpiece rapat di bibir, (4) Tekan bersamaan dengan inspirasi lambat dan dalam (2-3 detik), (5) Tahan napas 10 detik agar partikel obat mengendap di saluran napas kecil. Inspirasi cepat (A) menyebabkan deposisi obat di orofaring, bukan di bronkus target — ini kesalahan teknik tersering yang ditemukan pada pasien PPOK di lapangan.


Soal 18 Seorang perempuan 33 tahun dirawat hari ke-4 dengan typhoid fever. Perawat memonitor komplikasi yang paling ditakutkan.

Tanda dan gejala mana yang paling mengindikasikan adanya komplikasi perforasi usus?

  • A. Suhu tubuh meningkat hingga 40°C

  • B. Nyeri abdomen tiba-tiba yang sangat hebat disertai rigiditas (kaku) abdomen

  • C. Tinja berubah menjadi konsistensi lebih lunak

  • D. Muncul roseola spots di abdomen

  • E. Penurunan kesadaran dan pasien sulit dibangunkan

Jawaban: B Rasional: Perforasi usus halus adalah komplikasi typhoid fever paling berbahaya, umumnya terjadi pada minggu ke-2 hingga ke-3. Tandanya adalah nyeri abdomen mendadak dan hebat disertai rigiditas (kaku seperti papan) — tanda peritonitis akut. Ini adalah kedaruratan bedah yang memerlukan laparotomi segera. Perawat yang memahami tanda ini dapat menyelamatkan jiwa pasien dengan pelaporan yang cepat.


Soal 19 Seorang laki-laki 55 tahun dengan ca colorektal stadium III, menjalani kemoterapi siklus ke-3. Datang dengan keluhan lemas, pucat, sesak saat beraktivitas ringan. Hb 7,2 g/dL, leukosit 2.800/mm³.

Berdasarkan kondisi tersebut, intervensi prioritas keperawatan adalah…

  • A. Anjurkan pasien beristirahat total di tempat tidur

  • B. Terapkan prosedur perlindungan infeksi (neutropenic precaution)

  • C. Laporkan hasil laboratorium kepada dokter dan siapkan O₂ sesuai kebutuhan

  • D. Edukasi pasien tentang diet tinggi zat besi

  • E. Tunda siklus kemoterapi hingga kondisi membaik

Jawaban: B Rasional: Meskipun Hb 7,2 g/dL memerlukan perhatian, leukosit 2.800/mm³ menunjukkan potensi neutropenia yang menempatkan pasien pada risiko sepsis — kondisi fatal pada pasien imunosupresi. Neutropenic precaution (isolasi protektif, hand hygiene ketat, restriksi makanan mentah, masker) adalah intervensi mandiri keperawatan yang dapat segera dilakukan dan mencegah bencana infeksi yang jauh lebih berbahaya daripada anemia simtomatik sekalipun.


Soal 20 Seorang perempuan 44 tahun mengalami luka bakar derajat II seluas 25% LPT (Luas Permukaan Tubuh), terjadi 3 jam yang lalu. Berat badan 60 kg.

Menggunakan formula Parkland/Baxter, berapa total kebutuhan cairan Ringer Laktat dalam 24 jam pertama?

  • A. 4.000 mL

  • B. 6.000 mL

  • C. 8.000 mL

  • D. 10.000 mL

  • E. 12.000 mL

Jawaban: B Rasional: Formula Parkland/Baxter: 4 mL × kg BB × % LPT terbakar = 4 × 60 × 25 = 6.000 mL RL dalam 24 jam pertama. Pemberian: 3.000 mL (½ total) dalam 8 jam pertama dihitung sejak waktu kejadian (bukan sejak tiba di RS), dan 3.000 mL sisanya dalam 16 jam berikutnya. Perhitungan yang akurat kritis karena resusitasi berlebih atau kurang sama-sama berbahaya.


B. Keperawatan Maternitas (Soal 21–30)


Soal 21 Seorang perempuan G2P1A0 usia 32 tahun, hamil 38 minggu, datang ke poli KIA dengan keluhan gerakan janin berkurang sejak kemarin. TFU 34 cm, presentasi kepala, DJJ 108x/menit, tidak ada kontraksi. Tekanan darah 120/80 mmHg.

Tindakan pertama yang harus dilakukan perawat adalah…

  • A. Menganjurkan ibu pulang dan kembali jika kontraksi sudah 10 menit sekali

  • B. Segera laporkan kepada dokter SpOG

  • C. Ajarkan ibu menghitung gerakan janin mandiri selama 1 jam

  • D. Pasang CTG (Cardiotocography) segera untuk monitoring kesejahteraan janin

  • E. Anjurkan ibu minum air putih yang banyak dan istirahat

Jawaban: D Rasional: DJJ 108x/menit berada di bawah batas normal (110-160x/menit), dikombinasi dengan keluhan gerakan janin berkurang — ini adalah dua tanda fetal distress yang harus ditindaklanjuti segera. CTG adalah alat monitoring non-invasif pertama yang memberikan data objektif (variabilitas DJJ, akselerasi/deselerasi, kontraksi) yang dibutuhkan dokter untuk mengambil keputusan. Pasang CTG sebelum melapor ke dokter agar data sudah tersedia.


Soal 22 Ibu nifas G1P1A0 hari ke-2 pasca persalinan normal, menyusui eksklusif. Payudara terasa penuh, keras, nyeri, suhu 37,8°C. ASI keluar sedikit. Bayi menangis karena kurang puas.

Intervensi keperawatan yang paling tepat adalah…

  • A. Hentikan sementara menyusui dan kompres es pada payudara

  • B. Pompa ASI dengan pompa elektrik dan simpan di kulkas

  • C. Lakukan pemijatan payudara, kompres hangat sebelum menyusui, dan bantu koreksi posisi latch-on bayi

  • D. Berikan suplemen formula kepada bayi sampai produksi ASI lancar

  • E. Anjurkan ibu minum antibiotik untuk mencegah mastitis

Jawaban: C Rasional: Kondisi ini adalah breast engorgement fisiologis — bukan mastitis (suhu 37,8°C masih borderline, tidak ada nyeri fokal/kemerahan). Penanganan: kompres hangat untuk melancarkan let-down reflex, pijat payudara untuk melunakkan jaringan areola, dan perbaiki posisi latch-on agar pengosongan payudara efektif. Menghentikan menyusui (A) justru memperparah engorgement dengan menghambat pengosongan ASI.


Soal 23 Perempuan 24 tahun G1P0A0 usia kehamilan 32 minggu dibawa ke IGD dengan riwayat kejang tonik-klonik selama 2 menit, saat ini tidak sadar. Sebelumnya mengeluh sakit kepala hebat dan pandangan kabur. TD 170/110 mmHg, edema anasarka.

Obat yang paling prioritas disiapkan perawat untuk diberikan sesuai instruksi dokter adalah…

  • A. Nifedipine oral

  • B. Diazepam IV

  • C. Magnesium sulfat (MgSO₄) IV

  • D. Hidralazin IV

  • E. Dexamethasone IM

Jawaban: C Rasional: Ini adalah gambaran eklampsia. MgSO₄ adalah antikonvulsan pilihan utama pada eklampsia sekaligus profilaksis kejang berulang — mekanismenya menghambat transmisi neuromuskular dengan antagonisme kalsium di junction neuromuskular. Diazepam (B) adalah alternatif jika MgSO₄ tidak tersedia. Antihipertensi (A, D) penting untuk kontrol TD namun bukan prioritas saat kejang aktif.


Soal 24 Ibu G3P2A0 usia 28 tahun dalam persalinan. Pembukaan 8 cm, kepala di H-III, ketuban pecah 5 jam lalu, cairan jernih. DJJ 142x/menit. His 3x/10 menit/40 detik.

Kapan waktu paling tepat untuk melakukan pemeriksaan dalam berikutnya?

  • A. 1 jam kemudian untuk menilai kemajuan persalinan

  • B. 2 jam kemudian sesuai standar fase aktif

  • C. Segera saat ibu mengeluh ada dorongan kuat untuk mengedan

  • D. 30 menit kemudian karena pembukaan sudah hampir lengkap

  • E. Menunggu instruksi dokter sebelum melakukan pemeriksaan dalam

Jawaban: C Rasional: Pada fase aktif lanjut (pembukaan 8 cm), pemeriksaan dalam rutin dilakukan tiap 4 jam. Namun, jika ibu tiba-tiba merasakan dorongan kuat mengedan (tekanan rektum), ini adalah tanda kemungkinan pembukaan lengkap. Pemeriksaan segera diperlukan sebelum mengizinkan mengedan, karena mengedan pada pembukaan belum lengkap dapat menyebabkan edema serviks yang mempersulit persalinan.


Soal 25 Bayi baru lahir dari ibu HBsAg (+), lahir spontan pervaginam, usia gestasi 39 minggu, APGAR 8/9, BB lahir 3.200 gram.

Tindakan pencegahan hepatitis B vertikal yang paling tepat dalam 12 jam pertama adalah…

  • A. Berikan imunisasi hepatitis B saja

  • B. Berikan HBIG saja pada paha kanan

  • C. Berikan imunisasi hepatitis B dan HBIG pada lokasi penyuntikan berbeda dalam 12 jam pertama

  • D. Tunda semua imunisasi hingga bayi berusia 1 bulan

  • E. Lakukan pemeriksaan HBsAg pada bayi terlebih dahulu

Jawaban: C Rasional: Proteksi optimal dari ibu HBsAg (+): kombinasi vaksin hepatitis B (imunitas aktif jangka panjang) + HBIG (imunitas pasif segera) dalam <12 jam kelahiran, diberikan di lokasi berbeda (mis. paha kiri dan kanan). Efektivitas proteksi mencapai >95% dengan kombinasi ini. Hanya vaksin saja (A) atau hanya HBIG (B) memberikan perlindungan yang tidak optimal.


Soal 26 Perempuan 30 tahun P1A0 hari ke-7 postpartum datang ke puskesmas: nyeri tekan payudara kanan sejak 2 hari, demam 38,5°C, payudara kanan tampak kemerahan dan teraba keras di kuadran lateral. Masih menyusui.

Apakah diagnosis yang paling tepat dan penanganan awal yang benar?

  • A. Breast engorgement; kompres hangat dan pijat payudara

  • B. Mastitis; tetap menyusui atau pompa ASI, kompres hangat, analgetik, dan antibiotik sesuai advis

  • C. Abses payudara; rujuk untuk insisi dan drainase segera

  • D. Galaktocele; observasi dan tunggu resolusi spontan

  • E. Ca mammae; rujuk ke dokter bedah onkologi

Jawaban: B Rasional: Demam >38°C, nyeri, kemerahan, dan indurasi fokal pada payudara postpartum adalah mastitis. Penanganan standar: (1) Lanjutkan menyusui atau pompa ASI dari payudara yang terkena — menghentikan menyusui meningkatkan risiko progresi ke abses, (2) Kompres hangat, (3) Analgetik-antipiretik, (4) Antibiotik (biasanya kloksasilin/dikloksasilin untuk S. aureus) sesuai advis dokter.


Soal 27 Ibu hamil G2P1A0 usia 26 tahun, usia kehamilan 30 minggu, datang dengan perdarahan pervaginam merah segar tanpa nyeri sejak 2 jam yang lalu. Tidak ada kontraksi. TD 110/70 mmHg, DJJ 145x/menit.

Perdarahan tanpa nyeri pada trimester III ini paling mungkin disebabkan oleh…

  • A. Solusio plasenta

  • B. Plasenta previa

  • C. Ruptur uteri

  • D. Vasa previa

  • E. Perdarahan implantasi

Jawaban: B Rasional: Karakteristik khas plasenta previa: perdarahan merah segar, tiba-tiba, tanpa nyeri (painless bleeding), berulang, tanpa trauma. Ini kontras dengan solusio plasenta (A) yang khas dengan nyeri hebat mendadak dan uterus keras seperti papan. Vasa previa (D) juga painless namun terkait dengan ruptur membran dan perdarahan janin.


Soal 28 Perawat melakukan kunjungan rumah pada ibu nifas hari ke-10. Ditemukan pengeluaran lochia berwarna kekuningan-kecoklatan, cair, berbau amis khas. Ibu tidak demam, involusi uteri baik.

Jenis lochia yang normal ditemukan pada hari ke-10 postpartum ini adalah…

  • A. Lochia rubra

  • B. Lochia sanguilenta

  • C. Lochia serosa

  • D. Lochia alba

  • E. Lochia purulenta

Jawaban: C Rasional: Karakteristik lochia berdasarkan waktu: Rubra (hari 1-3): merah segar. Sanguilenta (hari 3-7): merah muda-kecoklatan. Serosa (hari 7-14): kekuningan-kecoklatan, cair — sesuai temuan pada hari ke-10. Alba (hari 14-42): putih/keputihan. Lochia purulenta (E) adalah abnormal dan menandakan infeksi, tidak ditemukan pada kasus ini.


Soal 29 Perempuan G1P0A0 usia 20 tahun, usia kehamilan 36 minggu. TD 158/100 mmHg, edema pretibial (+). Proteinuria dipstick +++. Mengeluh nyeri kepala, pandangan kabur, dan nyeri ulu hati.

Klasifikasi kondisi ini adalah…

  • A. Hipertensi gestasional

  • B. Preeklampsia ringan

  • C. Preeklampsia berat

  • D. Superimposed preeklampsia

  • E. Eklampsia

Jawaban: C Rasional: TD 158/100 mmHg (mendekati ambang ≥160/110) disertai gejala berat: nyeri kepala, pandangan kabur, dan nyeri epigastrik/ulu hati (warning signs impending eklampsia) + proteinuria +++ mengklasifikasikan ini sebagai preeklampsia berat. Gejala neurologi dan epigastrik inilah yang membedakannya dari preeklampsia tanpa gejala berat, terlepas dari angka TD yang borderline.


Soal 30 Ibu G2P1A0 usia 30 tahun dengan kehamilan 28 minggu didiagnosis anemia defisiensi besi (Hb 9,2 g/dL). Dokter meresepkan tablet Fe 60 mg/hari.

Edukasi yang benar tentang cara konsumsi tablet Fe adalah…

  • A. Diminum bersama susu untuk meningkatkan penyerapan

  • B. Diminum bersamaan dengan teh untuk mengurangi efek samping mual

  • C. Diminum malam hari sebelum tidur bersamaan dengan vitamin C atau jus jeruk

  • D. Diminum saat perut penuh untuk menghindari mual

  • E. Diminum bersamaan dengan antasida jika muncul mual

Jawaban: C Rasional: Tablet Fe optimal dikonsumsi malam hari sebelum tidur (lebih ditoleransi dan absorpsi lebih baik saat lambung relatif kosong) bersamaan dengan vitamin C (asam askorbat mengubah Fe³⁺ menjadi Fe²⁺ yang lebih mudah diserap). Harus dihindari: susu (kalsium menghambat absorpsi Fe), teh (tanin menghambat absorpsi), antasida (pH basa menurunkan absorpsi).


C. Keperawatan Anak (Soal 31–38)


Soal 31 Seorang anak laki-laki 8 tahun dibawa ke IGD karena kejang 5 menit di rumah. Saat ini sadar. TD 100/70 mmHg, nadi 110x/menit, suhu 39,5°C, frekuensi napas 24x/menit. Ini pertama kali anak mengalami kejang.

Tindakan pertama yang harus dilakukan perawat adalah…

  • A. Berikan diazepam suppositoria segera

  • B. Ukur suhu rektal dan berikan antipiretik

  • C. Pasang IV line untuk pemberian antikonvulsan

  • D. Amankan lingkungan, posisikan anak miring, dan pastikan jalan napas bebas

  • E. Lakukan EEG segera untuk menyingkirkan epilepsi

Jawaban: D Rasional: Anak saat ini sudah tidak dalam kondisi kejang aktif (sadar). Prioritas manajemen pasca kejang: (1) Amankan posisi (miring/recovery position untuk mencegah aspirasi jika terjadi muntah), (2) Pastikan jalan napas bebas, (3) Monitoring tanda vital. Diazepam (A) diindikasikan jika kejang berlangsung >5 menit atau berulang — bukan pada kondisi pasca kejang yang sudah sadar.


Soal 32 Bayi perempuan usia 6 bulan dengan diare cair 8-10x/hari sejak 2 hari dan muntah 3-4x/hari. Mata cekung, ubun-ubun besar cekung, turgor kulit kembali lambat, rewel. BB saat ini 7 kg.

Klasifikasi dehidrasi bayi ini menurut MTBS adalah…

  • A. Tanpa dehidrasi

  • B. Dehidrasi ringan

  • C. Dehidrasi (sedang)

  • D. Dehidrasi berat

  • E. Syok hipovolemik

Jawaban: C Rasional: Berdasarkan MTBS WHO, klasifikasi Dehidrasi (sedang): dua atau lebih tanda berikut — gelisah/rewel, mata cekung, haus/minum lahap, cubitan kulit kembali lambat. Klasifikasi berat memerlukan tidak sadar/letargi, mata sangat cekung, tidak bisa minum, atau cubitan kembali sangat lambat. Bayi ini: rewel + mata cekung + turgor lambat = dehidrasi sedang.


Soal 33 Anak laki-laki 3 tahun, BB 12 kg, sesak napas progresif. Awali batuk pilek, demam 3 hari. Frekuensi napas 58x/menit, ronkhi basah halus bilateral, retraksi subcostal dan intercostal, SpO₂ 88%, suhu 38,7°C.

Apakah prioritas tindakan keperawatan pertama?

  • A. Ambil darah untuk pemeriksaan laboratorium

  • B. Pasang IV line dan berikan IVFD

  • C. Berikan O₂ segera dan posisikan semi-Fowler

  • D. Inhalasi nebulisasi salbutamol

  • E. Kompres anak dan berikan antipiretik

Jawaban: C Rasional: SpO₂ 88% adalah hipoksemia berat yang mengancam jiwa. Prioritas mutlak adalah mengatasi hipoksia dengan pemberian O₂ segera. Posisi semi-Fowler membantu ekspansi paru optimal pada anak. Ini mendahului semua intervensi lain — A, B, D, E penting tetapi tidak sesegera mengatasi hipoksia.


Soal 34 Anak perempuan 5 tahun dirawat dengan DBD hari ke-4 sakit (hari ke-1 rawat). Trombosit 45.000/mm³, hematokrit 42% (baseline 38%). Mendapat IVFD RL 5 mL/kg/jam. Pasien masih demam, menolak minum.

Pemeriksaan yang paling penting dilakukan setiap 4-6 jam pada fase kritis DBD adalah…

  • A. Tanda vital saja

  • B. Tanda vital dan urin output

  • C. Tanda vital, urin output, dan hematokrit serial

  • D. Tanda vital dan kadar trombosit serial

  • E. Tanda vital, hematokrit, dan kadar gula darah

Jawaban: C Rasional: Pemantauan utama fase kritis DBD: (1) Tanda vital untuk deteksi syok, (2) Urin output untuk menilai perfusi ginjal (target ≥1 mL/kg/jam), (3) Hematokrit serial untuk memantau hemokonsentrasi/plasma leakage — peningkatan Ht ≥20% dari baseline adalah panduan utama resusitasi cairan. Ketiga parameter ini tidak dapat dipisahkan dalam manajemen DBD fase kritis.


Soal 35 Perawat akan memberikan injeksi intramuskular pada bayi berusia 5 bulan.

Lokasi yang paling tepat untuk injeksi IM pada bayi usia <1 tahun adalah…

  • A. Deltoid kanan karena paling mudah diakses

  • B. Vastus lateralis (paha anterolateral)

  • C. Dorsogluteal (gluteus maximus)

  • D. Ventrogluteal

  • E. Rektus femoris

Jawaban: B Rasional: Vastus lateralis adalah pilihan pertama untuk IM pada bayi dan anak <3 tahun karena: (1) Massa otot yang memadai meski pada bayi, (2) Tidak ada pembuluh darah mayor atau saraf besar di area ini, (3) Mudah diakses. Deltoid (A) hanya digunakan pada anak >3 tahun. Dorsogluteal (C) dihindari karena risiko cedera nervus ischiadicus yang berbahaya.


Soal 36 Anak perempuan 10 tahun dengan leukemia ALL post-kemoterapi. Suhu 38,9°C, leukosit 1.200/mm³ (ANC <500). Tampak lemah.

Intervensi keperawatan yang paling tepat untuk mencegah infeksi adalah…

  • A. Batasi pengunjung, hand hygiene ketat semua pihak, isolasi protektif (ruangan bertekanan positif)

  • B. Berikan antibiotik profilaksis tanpa instruksi dokter

  • C. Anjurkan anak bermain dengan teman sebaya untuk meningkatkan semangat

  • D. Berikan buah dan sayuran segar untuk meningkatkan imunitas

  • E. Lakukan pemeriksaan darah hanya jika ada tanda infeksi jelas

Jawaban: A Rasional: ANC <500/mm³ adalah neutropenia berat dengan risiko sepsis yang sangat tinggi. Neutropenic precautions: isolasi protektif, pembatasan pengunjung, hand hygiene ketat semua pihak, hindari buah/sayuran mentah (bisa mengandung patogen oportunistik), tidak ada tanaman di kamar. Ini adalah intervensi mandiri keperawatan terpenting yang dapat dilakukan segera tanpa menunggu instruksi medis tambahan.


Soal 37 Bayi laki-laki usia 2 hari tampak kuning sejak hari pertama lahir. Lahir dari ibu bergolongan darah O(+), bayi bergolongan darah A(+). Bilirubin total 18 mg/dL pada usia 48 jam.

Penyebab ikterus yang paling mungkin pada bayi ini adalah…

  • A. Ikterus fisiologis neonatal

  • B. Inkompatibilitas ABO

  • C. Inkompatibilitas Rhesus

  • D. Sepsis neonatorum

  • E. Atresia bilier

Jawaban: B Rasional: Ikterus muncul sebelum 24 jam (hari pertama) adalah patologis — bukan fisiologis. Kombinasi ibu bergolongan O dan bayi bergolongan A/B mengarahkan pada inkompatibilitas ABO: antibodi anti-A dari ibu O masuk ke sirkulasi janin melalui plasenta, menyebabkan hemolisis. Ikterus fisiologis (A) tidak muncul <24 jam dan biasanya bilirubin tidak setinggi ini pada hari ke-2.


Soal 38 Anak laki-laki 7 tahun dengan asma bronkial sedang persisten mengalami serangan ringan: mengi (+), frekuensi napas 30x/menit, berbicara dalam frasa, SpO₂ 94%.

Tata laksana keperawatan awal yang paling tepat adalah…

  • A. Berikan O₂ masker NRM dan siapkan intubasi

  • B. Posisikan duduk tegak dan berikan inhalasi salbutamol via spacer segera

  • C. Minta anak berbaring terlentang untuk istirahat

  • D. Berikan steroid oral dan observasi 30 menit

  • E. Ajarkan teknik pernapasan diafragma segera saat serangan

Jawaban: B Rasional: Serangan asma ringan: posisi duduk tegak (berbaring terlentang memperburuk sesak), dan SABA (Short-Acting Beta₂ Agonist) seperti salbutamol via inhaler dengan spacer adalah tatalaksana lini pertama. Spacer meningkatkan efisiensi deposisi obat ke saluran napas bawah secara signifikan — ini perbedaan yang krusial antara spacer dan inhaler tanpa spacer pada anak. O₂ masker NRM dan intubasi (A) diperuntukkan serangan berat/mengancam jiwa.


D. Keperawatan Jiwa (Soal 39–46)


Soal 39 Seorang laki-laki 35 tahun dibawa keluarga ke poli jiwa. Mengatakan ada suara-suara yang memerintahnya untuk "menyakiti orang yang mengganggunya." Kontak mata minimal, perawatan diri buruk, dan meyakini dirinya adalah nabi utusan.

Diagnosis keperawatan yang paling prioritas dari aspek keselamatan adalah…

  • A. Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan psikologis

  • B. Gangguan proses pikir: waham kebesaran berhubungan dengan gangguan jiwa berat

  • C. Isolasi sosial berhubungan dengan ketidakmampuan menjalin hubungan

  • D. Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran berhubungan dengan gangguan jiwa berat

  • E. Risiko perilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi komando

Jawaban: E Rasional: Halusinasi komando (suara yang memerintahkan menyakiti orang lain) adalah faktor risiko perilaku kekerasan yang paling mengancam keselamatan pasien dan orang di sekitarnya. Meskipun pasien juga memiliki halusinasi, waham, dan defisit perawatan diri, risiko perilaku kekerasan harus menjadi prioritas utama dalam perencanaan keperawatan karena implikasinya terhadap keselamatan (patient safety dan keselamatan staf/keluarga).


Soal 40 Seorang perempuan 42 tahun dengan skizofrenia paranoid dirawat di bangsal psikiatri. Saat perawat mendekati untuk memberikan obat, pasien berkata: "Jangan dekati saya! Anda mau meracuni saya! Pergi dari sini!"

Respons terapeutik yang paling tepat dari perawat adalah…

  • A. "Ibu, ini obat dari dokter, harus diminum. Saya tidak mau mendengar alasan."

  • B. "Baik Bu, saya pergi dulu. Nanti saya kembali lagi ya."

  • C. "Saya mengerti Ibu merasa takut dan tidak percaya saya sekarang. Boleh saya duduk sebentar di sini?"

  • D. "Ibu tidak perlu khawatir, obat ini aman. Saya yang minum dulu untuk membuktikannya."

  • E. "Kalau Ibu tidak mau minum obat, saya terpaksa memanggil petugas lain."

Jawaban: C Rasional: Prinsip respons terapeutik pada pasien paranoid: (1) Akui perasaan tanpa menegasi wahamnya ("saya mengerti Ibu merasa takut"), (2) Pertahankan sikap tenang dan tidak mengancam, (3) Berikan kontrol kepada pasien ("boleh saya duduk sebentar"). Memaksakan obat (A) meningkatkan agitasi. Mengancam dengan memanggil petugas (E) memperparah paranoia dan merusak hubungan terapeutik.


Soal 41 Perawat jiwa sedang memfasilitasi terapi kelompok dengan 8 pasien di ruang rehabilitasi. Salah satu pasien tiba-tiba berbicara keras dan menyalahkan pasien lain. Suasana kelompok menjadi tegang.

Peran perawat sebagai fasilitator yang paling tepat dalam situasi ini adalah…

  • A. Segera keluarkan pasien yang membuat keributan dari sesi kelompok

  • B. Biarkan dinamika kelompok berjalan alami tanpa intervensi

  • C. Hentikan sesi kelompok dan minta semua pasien kembali ke kamar

  • D. Intervensi dengan menenangkan, mengalihkan fokus ke topik kelompok, dan fasilitasi ekspresi perasaan secara konstruktif

  • E. Laporkan kepada dokter psikiatri untuk penambahan dosis sedatif

Jawaban: D Rasional: Fasilitator terapi kelompok berperan mengelola dinamika, termasuk konflik. Intervensi yang tepat: (1) De-eskalasi situasi dengan nada tenang, (2) Redirect diskusi ke topik kelompok, (3) Fasilitasi ekspresi perasaan secara konstruktif. Mengeluarkan pasien (A) adalah pilihan terakhir karena dapat merusak kepercayaan terapeutik dan stigma dalam kelompok. Membiarkan (B) dapat mengakibatkan eskalasi konflik.


Soal 42 Seorang perempuan 25 tahun diantar keluarga ke IGD psikiatri pasca percobaan bunuh diri dengan menelan obat tidur. Saat ini sadar penuh setelah lavage lambung. Pasien diam dan tidak menjawab pertanyaan perawat.

Pendekatan keperawatan yang paling tepat saat ini adalah…

  • A. Tinggalkan pasien untuk beristirahat dan jangan ganggu dengan pertanyaan

  • B. Tanyakan langsung: "Mengapa Anda ingin bunuh diri tadi?"

  • C. Duduk bersama pasien, tunjukkan kehadiran terapeutik, dan sampaikan: "Saya di sini bersama Anda. Anda tidak perlu bicara kalau belum mau."

  • D. Panggil keluarga dan minta mereka menemani karena pasien tidak mau bicara dengan perawat

  • E. Berikan banyak pertanyaan untuk mendistraksi pasien dari pikiran negatif

Jawaban: C Rasional: Pada pasien pasca percobaan bunuh diri, prioritas adalah membangun rasa aman dan koneksi terapeutik. "Kehadiran terapeutik" — duduk bersama tanpa memaksa bicara — menyampaikan bahwa pasien diterima dan tidak sendirian. Bertanya langsung tentang alasan bunuh diri (B) terlalu dini dan dapat terasa menyudutkan atau retraumatisasi. Meninggalkan pasien sendirian (A) justru meningkatkan risiko percobaan ulang.


Soal 43 Seorang laki-laki 28 tahun datang ke poli jiwa karena selama 2 tahun sering menghindari situasi sosial, takut dihakimi orang lain, sulit berbicara di depan umum, dan menolak undangan acara sosial meskipun ingin hadir. Pasien berkata: "Saya tahu rasa takut ini tidak masuk akal, tapi saya tidak bisa menghentikannya."

Kondisi ini paling sesuai dengan…

  • A. Agorafobia

  • B. Gangguan kepribadian menghindar

  • C. Gangguan kecemasan sosial (fobia sosial)

  • D. Skizofrenia tipe paranoid

  • E. Gangguan panik

Jawaban: C Rasional: Ciri khas gangguan kecemasan sosial: ketakutan berlebihan terhadap evaluasi negatif orang lain dalam situasi sosial/performa, disertai kesadaran bahwa ketakutan tidak rasional (ego-dystonic). Pasien ingin bersosialisasi tetapi dihambat kecemasan — berbeda dengan gangguan kepribadian menghindar (B) yang lebih pervasif, melekat pada karakter, dan sudah ada sejak awal kehidupan. Berlangsung >6 bulan mengkonfirmasi diagnosis.


Soal 44 Perawat jiwa memberikan haloperidol IM kepada pasien dengan agitasi akut. Efek samping akut yang harus dimonitor setelah pemberian antipsikotik tipikal ini adalah…

  • A. Hipertermia dan diaforesis

  • B. Distonia akut dan akatisia

  • C. Hipotensi ortostatik dan bradikardia

  • D. Hiperglikemia dan peningkatan berat badan

  • E. Agranulositosis dan trombositopenia

Jawaban: B Rasional: Efek samping ekstrapiramidal (EPS) adalah efek khas antipsikotik tipikal seperti haloperidol. EPS akut meliputi: (1) Distonia akut: spasme otot involunter (terutama otot leher, krisis okulogirik), dan (2) Akatisia: kegelisahan motorik yang tidak bisa diam dan sangat menyiksa pasien. Antidot distonia akut: difenhidramin atau biperiden IM. Agranulositosis (E) lebih khas untuk klozapin (antipsikotik atipikal).


Soal 45 Seorang ibu membawa anaknya usia 14 tahun ke poli jiwa. Selama 3 bulan anak sering menyendiri, nilai turun drastis, kehilangan minat pada hobi, menangis tanpa sebab jelas, dan berkata "hidup tidak ada gunanya."

Pernyataan anak mana yang paling mendesak dilakukan asesmen risiko segera?

  • A. "Saya malas sekolah karena tidak ada yang mau berteman."

  • B. "Saya sudah menyiapkan cara untuk mengakhiri hidup saya."

  • C. "Kadang saya merasa lebih baik tidak ada di sini."

  • D. "Saya tidak tahu kenapa saya terus menangis."

  • E. "Saya ingin tidur dan tidak bangun-bangun lagi."

Jawaban: B Rasional: Pernyataan B menunjukkan ideasi bunuh diri dengan rencana yang sudah spesifik ("sudah menyiapkan cara") — ini adalah red flag tertinggi yang memerlukan asesmen risiko segera dan protokol keselamatan. Adanya rencana meningkatkan risiko secara dramatis dibanding ideasi pasif (C dan E). Perawat wajib mengidentifikasi ketersediaan sarana, spesifisitas rencana, dan niat untuk bertindak.


Soal 46 Seorang laki-laki 45 tahun dengan riwayat konsumsi alkohol berat >10 tahun dibawa ke IGD: tremor, berkeringat, gelisah, mual, dan halusinasi visual sejak 12 jam setelah menghentikan konsumsi alkohol secara mendadak.

Kondisi ini dikenal sebagai…

  • A. Intoksikasi alkohol akut

  • B. Delirium tremens (alcohol withdrawal delirium)

  • C. Wernicke's encephalopathy

  • D. Korsakoff's psychosis

  • E. Alcoholic blackout

Jawaban: B Rasional: Delirium tremens adalah sindrom putus alkohol berat yang terjadi 24-72 jam setelah penghentian mendadak pada peminum berat kronis. Manifestasi: tremor, diaforesis, takikardia, agitasi, dan halusinasi (terutama visual). Ini adalah kedaruratan medis dengan mortalitas signifikan jika tidak ditangani. Berbeda dengan Wernicke's encephalopathy (C) yang khas dengan trias: ataksia, oftalmoplegia, dan konfusi.


E. Kegawatdaruratan & Keperawatan Kritis (Soal 47–52)


Soal 47 Seorang laki-laki 55 tahun ditemukan tidak responsif. Tidak ada respons, tidak bernapas, nadi karotis tidak teraba.

Urutan tindakan resusitasi yang benar sesuai guideline AHA 2020 adalah…

  • A. Airway → Breathing → Compression (ABC)

  • B. Compression → Airway → Breathing (CAB)

  • C. Defibrillation → Compression → Airway (DCA)

  • D. Breathing → Compression → Airway (BCA)

  • E. Airway → Compression → Breathing (ACB)

Jawaban: B Rasional: Sesuai guideline AHA 2020, urutan resusitasi adalah C-A-B (Compression-Airway-Breathing). Kompresi dada dimulai segera karena setiap menit tanpa kompresi menurunkan survival sekitar 10%. Perubahan dari ABC (guideline lama) ke CAB dilakukan karena jeda membuka airway sebelum memulai sirkulasi terlalu merugikan pada henti jantung dewasa.


Soal 48 Pasien laki-laki 60 tahun terpasang ventilator mekanik di ICU pasca operasi CABG. Alarm ventilator berbunyi "HIGH PRESSURE." Frekuensi napas 30x/menit (set 14x/menit), SpO₂ turun dari 98% menjadi 88%.

Tindakan pertama yang harus dilakukan perawat adalah…

  • A. Matikan alarm ventilator dan tunggu pasien stabil

  • B. Lepaskan dari ventilator dan berikan ventilasi manual dengan bag-valve-mask (BVM)

  • C. Tingkatkan FiO₂ pada ventilator menjadi 100%

  • D. Hubungi dokter dan teknisi ventilator segera

  • E. Berikan sedasi tambahan agar pasien tidak fighting the ventilator

Jawaban: B Rasional: Alarm HIGH PRESSURE dengan desaturasi signifikan dan takipnea mengindikasikan masalah serius (gunakan mnemonik DOPE: Displacement ETT, Obstruction, Pneumothorax, Equipment failure). Tindakan pertama: lepas dari ventilator dan manual ventilasi dengan BVM — ini memastikan pasien tetap terventilasi sambil mengidentifikasi penyebab (apakah masalah pada pasien atau pada mesin). Lebih aman daripada terus menggunakan ventilator yang bermasalah.


Soal 49 Seorang perempuan 35 tahun pasca trauma kepala tidak sadar (GCS E1V1M2). Pupil anisokor kanan 6mm/kiri 3mm, refleks cahaya kanan negatif. TD 170/90 mmHg, nadi 54x/menit, napas tidak teratur.

Triad Cushing yang ditemukan mengindikasikan…

  • A. Syok neurogenik

  • B. Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) berat/herniasi otak

  • C. Perdarahan epidural

  • D. Fraktur basis kranii

  • E. Kontusio serebri

Jawaban: B Rasional: Triad Cushing terdiri dari: (1) Hipertensi (TD 170/90), (2) Bradikardia (nadi 54x/menit), (3) Pernapasan ireguler. Ini adalah respons kompensasi fisiologis tubuh untuk mempertahankan perfusi serebral pada kondisi TIK yang sangat tinggi — tanda bahwa herniasi otak sedang terjadi. Pupil anisokor dan GCS sangat rendah memperkuat kondisi ini sebagai kedaruratan neurologis yang memerlukan intervensi bedah segera.


Soal 50 Perempuan 28 tahun dengan syok sepsis di ICU. CVP 3 mmHg, MAP 58 mmHg, urin output 0,3 mL/kg/jam, laktat 4,2 mmol/L.

Berdasarkan Surviving Sepsis Campaign 1-Hour Bundle, tindakan mana yang paling mendesak?

Jawaban: A Rasional: Berdasarkan SSC 2018 1-Hour Bundle: resusitasi cairan 30 mL/kgBB kristaloid diindikasikan untuk hipotensi atau laktat ≥4 mmol/L. CVP 3 mmHg menandakan hipovolemia relatif. Cairan adalah langkah pertama sebelum vasopressor (C) — vasopressor diberikan jika MAP tetap <65 mmHg setelah resusitasi cairan adekuat. Budaya "tunggu kultur dulu sebelum antibiotik" (B) sudah ditinggalkan karena setiap jam keterlambatan meningkatkan mortalitas.


Soal 51 Seorang laki-laki 40 tahun dengan luka sayat dalam di lengan bawah kanan dengan perdarahan arteri deras (merah segar, memancar). Pasien sadar, gelisah.

Metode penghentian perdarahan pertama yang paling tepat adalah…

  • A. Pasang tourniquet setinggi mungkin pada lengan kanan segera

  • B. Penekanan langsung (direct pressure) dengan kain bersih atau kassa steril

  • C. Elevasi ekstremitas setinggi mungkin sambil menunggu dokter

  • D. Balut tekan dengan perban elastis tanpa penekanan langsung

  • E. Kompres es pada area perdarahan

Jawaban: B Rasional: Penekanan langsung (direct pressure) adalah metode pertama dan paling efektif untuk menghentikan perdarahan eksternal, termasuk arteri. Tekanan langsung kontinu selama minimum 10-15 menit membantu pembentukan bekuan. Tourniquet (A) diindikasikan jika direct pressure gagal setelah upaya adekuat, atau pada amputasi traumatik — bukan pilihan pertama untuk semua perdarahan ekstremitas.


Soal 52 Seorang laki-laki 65 tahun tiba-tiba mengalami nyeri kepala hebat "seperti disambar petir" (thunderclap headache), kemudian tidak sadar. GCS E2V2M4.

Kondisi yang paling mungkin dan pemeriksaan pertama yang diperlukan adalah…

  • A. Stroke iskemik — MRI diffusion-weighted

  • B. Perdarahan subaraknoid — CT Scan kepala non-kontras

  • C. Meningitis bakteri — lumbal pungsi segera

  • D. Migrain komplikata — CT Scan kontras

  • E. Hipertensi ensefalopati — EEG

Jawaban: B Rasional: Thunderclap headache ("nyeri kepala terburuk sepanjang hidup" yang onsetnya mendadak dalam hitungan detik) adalah presentasi khas perdarahan subaraknoid (SAH), biasanya akibat ruptur aneurisma serebral. CT Scan kepala non-kontras adalah pemeriksaan pertama karena: cepat, tidak memerlukan kontras, dan dapat mendeteksi darah di ruang subaraknoid dalam 6-12 jam pertama dengan sensitivitas tinggi (>95%).


F. Keperawatan Gerontik (Soal 53–56)


Soal 53 Seorang perempuan 78 tahun sering lupa nama cucu, sering bertanya hal yang sama berulang kali, sulit menemukan kata saat berbicara, dan pernah tersesat di sekitar rumah yang sudah 30 tahun ditinggali. Gejala progresif selama 2 tahun.

Instrumen skrining kognitif yang paling tepat digunakan perawat adalah…

  • A. GCS (Glasgow Coma Scale)

  • B. MMSE (Mini Mental State Examination)

  • C. Geriatric Depression Scale (GDS)

  • D. Barthel Index

  • E. SPMSQ (Short Portable Mental Status Questionnaire)

Jawaban: B Rasional: MMSE adalah instrumen standar tervalidasi untuk skrining kognitif pada lansia, menilai orientasi, registrasi, atensi/kalkulasi, recall, bahasa, dan konstruksi visual-spasial. Skor <24 mengindikasikan gangguan kognitif yang perlu evaluasi lebih lanjut. GDS (C) digunakan untuk skrining depresi. Barthel Index (D) menilai kemampuan aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL), bukan fungsi kognitif.


Soal 54 Seorang laki-laki 80 tahun tinggal sendiri. Saat kunjungan perawat komunitas: pasien sempoyongan saat berjalan, riwayat jatuh 1 kali dalam 3 bulan terakhir, dan mengonsumsi 5 jenis obat rutin termasuk benzodiazepine untuk gangguan tidur.

Faktor risiko jatuh yang paling dapat dimodifikasi adalah…

  • A. Usia 80 tahun

  • B. Tinggal sendiri

  • C. Penggunaan benzodiazepine

  • D. Riwayat jatuh sebelumnya

  • E. Gangguan keseimbangan

Jawaban: C Rasional: Benzodiazepine masuk dalam Beers Criteria (daftar obat yang sebaiknya dihindari pada lansia) karena berkontribusi signifikan terhadap risiko jatuh melalui efek sedasi, gangguan keseimbangan, dan kebingungan. Di antara semua faktor yang tercantum, penggunaan benzodiazepine adalah yang paling mudah dimodifikasi — dengan menganjurkan deprescribing atau substitusi ke obat yang lebih aman untuk insomnia lansia (seperti CBT-I atau melatonin).


Soal 55 Seorang nenek 75 tahun mengalami inkontinensia urin: setiap kali batuk, bersin, atau tertawa keluar sedikit urin tanpa bisa ditahan. Tidak ada ISK. Riwayat 4 persalinan pervaginam.

Jenis inkontinensia dan intervensi keperawatan yang paling tepat adalah…

  • A. Inkontinensia urgensi — bladder training

  • B. Inkontinensia stres — latihan Kegel (pelvic floor muscle training/PFMT)

  • C. Inkontinensia overflow — kateterisasi intermitten

  • D. Inkontinensia fungsional — modifikasi lingkungan dan jadwal berkemih

  • E. Inkontinensia total — kateter permanen

Jawaban: B Rasional: Inkontinensia stres ditandai kebocoran urin saat peningkatan tekanan intra-abdominal (batuk, bersin, tertawa) tanpa urgensi. Pada wanita multiparitas, penyebabnya adalah kelemahan otot dasar panggul dan sfingter uretra. Intervensi utama: latihan Kegel (PFMT) memperkuat otot pubokoksigeus — terbukti efektif, tanpa efek samping, dan dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien.


Soal 56 Seorang kakek 82 tahun di panti jompo. Perawat menemukan: lecet berbentuk jari di lengan atas, pasien tampak ketakutan saat didekati pengasuh tertentu, dan berkata "tolong jangan ceritakan ke siapa-siapa."

Tindakan yang paling tepat dilakukan perawat adalah…

  • A. Hormati kerahasiaan dan ikuti permintaan pasien untuk tidak menceritakan

  • B. Konfrontasi langsung kepada pengasuh yang dicurigai

  • C. Catat temuan secara objektif, laporkan kepada kepala ruangan/pimpinan panti, dan ikuti prosedur pelaporan kekerasan lansia

  • D. Tunggu sampai ada bukti yang lebih kuat sebelum mengambil tindakan

  • E. Minta pasien tidak berinteraksi dengan pengasuh tersebut

Jawaban: C Rasional: Tanda-tanda ini adalah indikator kuat kekerasan fisik pada lansia (elder abuse). Sebagai tenaga kesehatan, perawat memiliki kewajiban hukum dan etik sebagai mandatory reporter untuk melaporkan kecurigaan elder abuse. Permintaan kerahasiaan dari pasien tidak dapat menghalangi kewajiban pelaporan pada kondisi kekerasan. Dokumentasikan temuan secara objektif (ukuran, bentuk, lokasi luka) sebelum melaporkan melalui jalur resmi.


G. Komunitas, Keluarga & Manajemen Keperawatan (Soal 57–60)


Soal 57 Perawat komunitas melakukan kunjungan rumah keluarga dengan anggota yang terdiagnosis TB paru aktif. Rumah berventilasi buruk, 4 orang tidur satu kamar, dan 3 anggota keluarga lain belum diperiksa kontak.

Intervensi keperawatan keluarga yang paling prioritas adalah…

  • A. Memberikan suplemen vitamin kepada seluruh anggota keluarga

  • B. Melakukan skrining kontak TB pada seluruh anggota keluarga yang belum diperiksa

  • C. Menganjurkan pasien TB untuk pindah kamar tidur

  • D. Memberikan edukasi tentang etika batuk saja

  • E. Merekomendasikan keluarga membeli air purifier

Jawaban: B Rasional: Skrining kontak (contact investigation) adalah prioritas karena tiga anggota keluarga yang terpapar di ruangan sempit berisiko tinggi sudah terinfeksi tanpa disadari dan mungkin memerlukan profilaksis atau terapi. Ini merupakan bagian integral dari strategi DOTS nasional untuk memutus rantai penularan TB. Edukasi etika batuk (D) penting tapi tidak menggantikan deteksi kasus secara aktif.


Soal 58 Perawat puskesmas melakukan penyuluhan pencegahan stunting kepada 25 ibu hamil dan ibu balita di posyandu. Kebanyakan ibu berpendidikan SD-SMP.

Metode penyuluhan yang paling efektif untuk kelompok sasaran ini adalah…

  • A. Ceramah 60 menit dengan slide PowerPoint kompleks

  • B. Diskusi ilmiah dengan literatur jurnal

  • C. Demonstrasi dan praktik langsung (misalnya: pembuatan MP-ASI bergizi) + diskusi tanya jawab

  • D. Pembagian booklet panduan gizi ibu hamil

  • E. Pemutaran film dokumenter tanpa diskusi lanjutan

Jawaban: C Rasional: Untuk sasaran dengan tingkat literasi rendah dan topik kesehatan praktis, demonstrasi + praktik langsung adalah yang paling efektif: konkret, melibatkan semua indera (learning by doing), dan diskusi tanya jawab memungkinkan adaptasi konteks lokal serta klarifikasi langsung. Ceramah panjang dengan slide kompleks (A) tidak sesuai dengan kapasitas literasi dan gaya belajar sasaran.


Soal 59 Di ruang rawat bedah, perawat shift pagi menemukan obat high alert (NaCl 3%) disimpan bersama cairan infus biasa di lemari yang tidak terkunci dan tanpa penandaan khusus.

Tindakan yang harus segera dilakukan berdasarkan prinsip keselamatan pasien adalah…

  • A. Membiarkan situasi dan melaporkan kepada kepala ruangan saat laporan shift selesai

  • B. Memindahkan obat high alert ke lemari terpisah yang terkunci dengan label high alert merah, dan melaporkan kepada kepala ruangan segera

  • C. Memindahkan obat ke nurse station agar mudah diakses saat dibutuhkan

  • D. Mengingatkan teman sejawat secara lisan untuk berhati-hati

  • E. Membuat laporan insiden keselamatan pasien terlebih dahulu sebelum memindahkan obat

Jawaban: B Rasional: Berdasarkan standar KARS dan IPSG: obat high alert (termasuk cairan hipertonik seperti NaCl 3%) wajib disimpan terpisah di lemari terkunci dengan label stiker merah "HIGH ALERT." Tindakan koreksi segera adalah prioritas utama untuk mencegah insiden, diikuti pelaporan kepada kepala ruangan. Membuat laporan insiden dahulu (E) tanpa mengatasi risiko aktif adalah urutan tindakan yang tidak tepat.


Soal 60 Kepala ruang rawat inap menemukan dokumentasi asuhan keperawatan tidak lengkap pada 60% rekam medis bulan ini. Ia ingin menerapkan pendekatan yang mendorong perbaikan secara kolaboratif.

Pendekatan manajemen keperawatan yang paling tepat adalah…

  • A. Memberikan surat peringatan tertulis kepada seluruh staf

  • B. Mengadakan rapat tim untuk mengidentifikasi hambatan, menetapkan standar bersama, dan membuat rencana perbaikan kolaboratif

  • C. Supervisi ketat dengan memeriksa dokumentasi setiap hari tanpa pemberitahuan

  • D. Mengalihkan tugas dokumentasi kepada perawat senior saja

  • E. Menambah jumlah tenaga keperawatan sebagai solusi utama

Jawaban: B Rasional: Pendekatan manajemen partisipatif terbukti lebih efektif untuk perbaikan berkelanjutan dibanding pendekatan punitif (A). Dengan mengidentifikasi akar masalah bersama tim (hambatan waktu, beban kerja, pemahaman SOP) dan membangun rencana perbaikan secara kolaboratif, kepala ruang membangun ownership dan komitmen dalam tim. Ini selaras dengan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) dalam peningkatan mutu layanan.


BAGIAN II: Soal Kebidanan D3 Kebidanan (Soal 61–100)

A. Asuhan Kehamilan & Antenatal (Soal 61–70)


Soal 61 Seorang ibu hamil G1P0A0 usia 22 tahun datang untuk ANC pertama kali. HPHT: 20 September 2023.

Menggunakan rumus Naegele, berapakah taksiran persalinan (TP)?

  • A. 20 Juni 2024

  • B. 27 Juni 2024

  • C. 27 Juli 2024

  • D. 13 Juli 2024

  • E. 20 Juli 2024

Jawaban: B Rasional: Rumus Naegele: Tanggal +7, Bulan −3, Tahun +1. HPHT: 20 September 2023 → Tanggal: 20+7 = 27, Bulan: 9−3 = 6 (Juni), Tahun: 2023+1 = 2024. TP = 27 Juni 2024.


Soal 62 Bidan mengukur TFU ibu hamil dan mendapatkan hasil 28 cm dari simfisis pubis. Tidak ada faktor penyulit.

Perkiraan usia kehamilan berdasarkan TFU tersebut adalah…

  • A. 24 minggu

  • B. 28 minggu

  • C. 30 minggu

  • D. 32 minggu

  • E. 36 minggu

Jawaban: B Rasional: Antara usia kehamilan 20-36 minggu pada kehamilan tunggal normal, TFU dalam cm (diukur dari simfisis pubis) ≈ usia kehamilan dalam minggu (pendekatan sederhana yang umum digunakan). TFU 28 cm ≈ 28 minggu. Rumus ini tidak berlaku untuk kehamilan ganda, janin besar/kecil masa kehamilan, atau kelainan posisi janin.


Soal 63 Perempuan G2P1A0 usia kehamilan 11 minggu dengan keluhan mual muntah berat sejak 4 minggu: muntah 10-15x/hari, tidak dapat makan dan minum sama sekali, BB turun 5 kg dalam 3 minggu. Mukosa kering, turgor menurun, urin sangat pekat.

Kondisi ini disebut…

  • A. Morning sickness fisiologis

  • B. Emesis gravidarum

  • C. Hyperemesis gravidarum

  • D. Gastritis akut

  • E. Mola hidatidosa

Jawaban: C Rasional: Hyperemesis gravidarum (HEG) berbeda dari emesis gravidarum biasa dalam hal: frekuensi muntah >10x/hari, penurunan BB >5% dari BB pra-kehamilan, dan tanda dehidrasi klinis (mukosa kering, turgor menurun, oliguria). HEG biasanya terjadi trimester I (<16 minggu) dan memerlukan rawat inap dengan rehidrasi intravena dan koreksi elektrolit.


Soal 64 Bidan melakukan pemeriksaan Leopold pada ibu G1P0A0 usia kehamilan 20 minggu. Hasil: Leopold I — fundus teraba bagian besar, lunak, tidak melenting; Leopold II — punggung janin di sisi kanan ibu; Leopold III — bagian terbawah janin teraba bagian besar, keras, melenting.

Interpretasi yang benar adalah…

  • A. Presentasi kepala, punggung kanan (PKaKa)

  • B. Presentasi bokong, punggung kanan (PBKa)

  • C. Presentasi kepala, punggung kiri (PKaKi)

  • D. Presentasi bokong, punggung kiri (PBKi)

  • E. Presentasi lintang, kepala di kanan

Jawaban: A Rasional: Leopold I: Fundus = bokong (lunak, tidak melenting). Leopold II: Punggung kanan. Leopold III: Bagian terbawah = kepala (keras, bulat, melenting). Karena kepala ada di bawah → presentasi kepala. Punggung di sisi kanan ibu → punggung kanan. Jadi: Presentasi Kepala, Punggung Kanan (PKaKa).


Soal 65 Ibu hamil G3P2A0 usia kehamilan 36 minggu. Keluhan: sering BAK, sesak napas sedikit berkurang dibanding 2 minggu lalu. Leopold IV: kedua tangan pemeriksa tidak dapat dipertemukan (divergen).

Interpretasi Leopold IV divergen menandakan…

  • A. Kepala belum masuk PAP

  • B. Kepala masuk sebagian ke PAP (konvergen)

  • C. Kepala sudah masuk dan engaged ke dalam rongga panggul

  • D. Bokong janin mulai turun

  • E. Terjadi malposisi janin

Jawaban: C Rasional: Leopold IV: Konvergen (tangan bisa dipertemukan di atas kepala) = kepala belum masuk PAP. Divergen (tangan menyebar, tidak dapat dipertemukan) = kepala sudah engaged/masuk ke dalam rongga panggul. Gejala klinis yang menyertai konsisten: sesak berkurang (kepala turun melepaskan diafragma) dan frekuensi BAK meningkat (kepala menekan kandung kemih).


Soal 66 Bidan melakukan kunjungan ANC pada ibu hamil G1P0A0 usia 16 tahun, usia kehamilan 32 minggu. TD 145/95 mmHg, edema tungkai +++, proteinuria dipstick ++. Tidak ada nyeri kepala atau pandangan kabur.

Tindakan pertama bidan yang paling tepat adalah…

  • A. Anjurkan ibu beristirahat total di rumah dan kontrol 2 minggu lagi

  • B. Berikan antihipertensi oral dan pantau di puskesmas

  • C. Stabilisasi kondisi ibu, pasang IV line, dan rujuk ke fasilitas dengan kemampuan obstetri komprehensif (PONEK)

  • D. Lakukan NST di puskesmas

  • E. Berikan MgSO₄ profilaksis sebelum merujuk

Jawaban: C Rasional: Preeklampsia (TD ≥140/90 + proteinuria ≥+ pada UK >20 minggu) pada remaja dengan usia kehamilan 32 minggu (preterm) adalah risiko tinggi yang tidak dapat ditangani definitif di puskesmas. Bidan harus: stabilisasi (posisi miring kiri, pasang IV line, monitoring DJJ) dan rujuk ke RS PONEK. MgSO₄ (E) dapat diberikan sebelum rujuk jika ada gejala impending eklampsia — tidak rutin pada semua kasus.


Soal 67 Ibu hamil G2P1A0 usia kehamilan 28 minggu. Hb 9,5 g/dL. Tidak ada gejala klinis bermakna.

Klasifikasi anemia ibu hamil ini menurut WHO adalah…

  • A. Tidak anemia (Hb ≥11 g/dL)

  • B. Anemia ringan (Hb 10-10,9 g/dL)

  • C. Anemia sedang (Hb 7-9,9 g/dL)

  • D. Anemia berat (Hb <7 g/dL)

  • E. Anemia sangat berat (Hb <4 g/dL)

Jawaban: C Rasional: Klasifikasi anemia pada ibu hamil (WHO): Normal: Hb ≥11 g/dL. Ringan: 10-10,9 g/dL. Sedang: 7-9,9 g/dL. Berat: <7 g/dL. Dengan Hb 9,5 g/dL, ibu masuk kategori anemia sedang. Memerlukan suplementasi Fe dosis terapeutik (bukan hanya profilaksis 60 mg/hari), biasanya 120-180 mg/hari, dengan pemantauan Hb berkala.


Soal 68 Perempuan G1P0A0 usia 24 tahun, usia kehamilan 12 minggu, menjalani ANC. Bidan melakukan skrining faktor risiko dengan Kartu Skor Poedji Rochjati (KSPR). Ditemukan: tinggi badan 143 cm, LILA 21 cm.

Kedua temuan ini menambah skor KSPR karena…

  • A. Tinggi badan <145 cm adalah faktor risiko CPD/panggul sempit

  • B. LILA <23,5 cm menandakan Kurang Energi Kronis (KEK)

  • C. Keduanya benar — tinggi badan <145 cm dan LILA <23,5 cm masing-masing menambah skor KSPR

  • D. Hanya salah satu yang dihitung dalam KSPR

  • E. Keduanya tidak termasuk dalam KSPR karena termasuk faktor risiko ringan

Jawaban: C Rasional: Dalam KSPR: Tinggi badan <145 cm menambah skor sebagai risiko panggul sempit (CPD). LILA <23,5 cm menambah skor sebagai KEK yang meningkatkan risiko BBLR dan persalinan prematur. Keduanya ditemukan pada ibu ini dan masing-masing berkontribusi pada total skor KSPR yang menentukan kategori risiko dan frekuensi ANC.


Soal 69 Ibu hamil usia kehamilan 34 minggu mengeluh ada cairan keluar dari vagina sejak 2 jam lalu, tidak terasa sakit, berwarna jernih dan berbau khas. Tidak ada his. DJJ 145x/menit.

Pemeriksaan yang paling tepat untuk memastikan KPD (Ketuban Pecah Dini) adalah…

  • A. Pemeriksaan dalam (vaginal touche) untuk menilai pembukaan serviks

  • B. Uji nitrazin (kertas lakmus) secara mandiri

  • C. USG untuk menilai volume cairan ketuban (AFI)

  • D. Darah lengkap untuk menilai tanda infeksi

  • E. Inspeksi visual dengan spekulum untuk melihat cairan dari ostium serviks, dilengkapi ferning test

Jawaban: E Rasional: Diagnosis KPD: Inspeksi dengan spekulum adalah pemeriksaan diagnostik pertama — terlihat cairan jernih mengalir dari ostium atau menggenang di forniks posterior. Ferning test (cairan dikeringkan di kaca objek, terlihat pola daun pakis khas cairan amnion) mengkonfirmasi. Pemeriksaan dalam (A) dihindari pada KPD karena meningkatkan risiko infeksi asendens secara signifikan.


Soal 70 Ibu hamil G1P0A0 usia kehamilan 38 minggu. Bidan mengajarkan cara memantau gerakan janin dengan metode Cardiff Count to Ten.

Gerakan janin dikatakan perlu diwaspadai jika…

  • A. Janin bergerak 10 kali dalam 12 jam

  • B. Janin belum mencapai 10 gerakan dalam 12 jam

  • C. Janin bergerak 10 kali dalam <2 jam (normal, tidak perlu khawatir)

  • D. Janin bergerak tidak teratur sepanjang hari

  • E. Ibu tidak merasakan gerakan dalam 1 jam setelah makan

Jawaban: B Rasional: Metode Cardiff Count to Ten: ibu menghitung gerakan janin dari pukul 09.00 hingga 21.00. Normal: mencapai 10 gerakan dalam <12 jam. Perlu diwaspadai: janin membutuhkan >12 jam untuk mencapai 10 gerakan, atau belum mencapai 10 gerakan dalam 12 jam. Ini mengindikasikan penurunan aktivitas janin yang harus segera dievaluasi dengan NST atau USG Doppler.


B. Asuhan Persalinan/Intrapartum (Soal 71–80)


Soal 71 Ibu hamil G2P1A0 usia 28 tahun datang ke bidan dengan mules yang semakin sering. Pemeriksaan dalam: pembukaan 4 cm, pendataran serviks 70%, kepala di H-II, ketuban utuh. His 3x/10 menit/35 detik.

Ibu berada dalam fase persalinan…

  • A. Kala I fase laten

  • B. Kala I fase aktif

  • C. Kala II

  • D. Pre-labor (prodromal)

  • E. Kala I akselerasi saja

Jawaban: B Rasional: Pembukaan ≥4 cm adalah kriteria kala I fase aktif berdasarkan WHO dan Konsensus Obstetri Indonesia. Dalam fase aktif, pembukaan berlangsung lebih cepat: rata-rata 1 cm/jam pada multipara, 0,5-0,7 cm/jam pada primipara. Fase laten (A) adalah pembukaan 0-<4 cm dengan atau tanpa his yang teratur.


Soal 72 Bidan sedang memimpin persalinan. Kepala janin sudah terlihat di vulva dengan diameter ±5 cm dan tidak maju lagi (crowning). Perineum tampak tegang dan tipis.

Tindakan bidan yang paling tepat saat ini adalah…

  • A. Langsung lakukan episiotomi tanpa pertimbangan lebih lanjut

  • B. Dorong kepala ke dalam untuk mengurangi tekanan perineum

  • C. Anjurkan ibu mengedan sekuat mungkin

  • D. Pertahankan kepala dengan teknik modifikasi Ritgen, anjurkan ibu napas pendek-pendek (panting)

  • E. Tunggu his berikutnya tanpa melakukan apapun

Jawaban: D Rasional: Saat crowning, perineum dalam risiko robekan. Teknik modifikasi Ritgen mengontrol kecepatan lahirnya kepala. Ibu dianjurkan panting (napas pendek) untuk mengurangi dorongan mengedan agar kepala lahir perlahan dan terkontrol. Episiotomi (A) tidak dilakukan secara rutin — hanya atas indikasi klinis (distres janin, perineum rigid tidak adekuat).


Soal 73 Setelah bayi lahir, bidan menunggu pulsasi tali pusat berhenti, kemudian menyuntikkan oksitosin 10 IU IM pada kala III persalinan.

Mengapa oksitosin diberikan pada kala III?

  • A. Merangsang kontraksi uterus agar plasenta lepas dan mencegah perdarahan pasca persalinan

  • B. Mempercepat pemulihan fisik ibu pasca persalinan

  • C. Merangsang produksi ASI segera setelah persalinan

  • D. Mencegah infeksi pasca persalinan

  • E. Mengurangi nyeri pasca persalinan

Jawaban: A Rasional: Oksitosin 10 IU IM adalah komponen utama Manajemen Aktif Kala III (MAKTIGA) yang menjadi standar Asuhan Persalinan Normal (APN). Oksitosin merangsang kontraksi uterus yang menyebabkan pelepasan plasenta dan penutupan pembuluh darah di implantasi plasenta, sehingga mencegah Perdarahan Pasca Persalinan (PPP) — penyebab utama kematian ibu di Indonesia.


Soal 74 Ibu G1P0A0 dalam kala II sudah dipimpin mengedan 65 menit. Kepala terlihat di vulva saat his namun tidak ada kemajuan penurunan. DJJ turun menjadi 98x/menit (sebelumnya 135x/menit). His 3x/10 menit/40 detik.

Tindakan yang paling tepat dilakukan bidan adalah…

  • A. Lanjutkan memimpin mengedan karena masih dalam batas waktu

  • B. Ubah posisi ibu dan berikan dukungan emosional

  • C. Segera rujuk ke fasilitas dengan kemampuan operatif karena ada tanda gawat janin

  • D. Berikan oksitosin drip untuk memperkuat his

  • E. Pecahkan ketuban untuk mempercepat persalinan

Jawaban: C Rasional: Ini adalah kala II memanjang (primipara >2 jam) disertai gawat janin (DJJ <100x/menit = bradikardia janin). Kombinasi ini adalah indikasi rujukan segera — bidan tidak memiliki kewenangan melakukan vakum atau SC. Oksitosin drip (D) kontraindikasi saat ada gawat janin karena meningkatkan tekanan pada janin yang sudah distres.


Soal 75 Ibu G3P2A0 usia 35 tahun baru melahirkan bayi 3.800 g. Plasenta belum lahir 30 menit setelah bayi lahir meskipun sudah diberikan oksitosin 10 IU IM. Perdarahan dari jalan lahir 300 mL.

Diagnosis yang paling tepat adalah…

  • A. Perdarahan pasca persalinan primer

  • B. Retensio plasenta

  • C. Inversio uteri

  • D. Robekan jalan lahir

  • E. Atonia uteri

Jawaban: B Rasional: Retensio plasenta didefinisikan sebagai plasenta yang tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir, meskipun sudah diberikan uterotonika. Ini adalah kondisi yang memerlukan tindakan manual removal plasenta di fasilitas yang memiliki kompetensi dan sarana memadai. Atonia uteri (E) terjadi ketika uterus lembek setelah plasenta lahir.


Soal 76 Bidan melakukan pemeriksaan dalam pada ibu G2P1A0 dalam persalinan: pembukaan 7 cm, kepala di H-III/IV, denominator UUK di kanan depan. His adekuat.

Posisi kepala janin tersebut adalah…

  • A. Left Occiput Anterior (LOA) — Oksiput Anterior Kiri

  • B. Right Occiput Anterior (ROA) — Oksiput Anterior Kanan

  • C. Right Occiput Posterior (ROP) — Oksiput Posterior Kanan

  • D. Right Occiput Transverse (ROT) — Oksiput Transversal Kanan

  • E. Left Occiput Posterior (LOP) — Oksiput Posterior Kiri

Jawaban: B Rasional: Denominator pada presentasi kepala adalah ubun-ubun kecil (UUK/oksiput). UUK berada di kanan depan ibu = oksiput di kanan, di bagian anterior panggul. Nomenclatur: Right Occiput Anterior (ROA). Posisi ini cukup menguntungkan untuk persalinan pervaginam karena oksiput yang di anterior memudahkan mekanisme rotasi internal.


Soal 77 Bidan berhasil membantu lahirnya kepala. Saat melakukan restitusi dan putaran paksi luar, bahu anterior tidak dapat dilahirkan meskipun dilakukan traksi ringan ke bawah.

Kondisi ini disebut…

  • A. Distosia bahu

  • B. Kepala macet

  • C. Presentasi muka

  • D. Presentasi dahi

  • E. Presentasi rangkap (compound)

Jawaban: A Rasional: Distosia bahu terjadi ketika kepala sudah lahir namun bahu anterior tersangkut di belakang simfisis pubis dan tidak dapat dilahirkan dengan traksi biasa. Ini adalah kedaruratan obstetrik yang memerlukan manuver khusus (McRobert's, tekanan suprapubik, Rubin, Woods screw) dalam hitungan menit. Jika tidak ditangani cepat: asfiksia janin, cedera pleksus brakialis (palsy Erb), hingga kematian perinatal.


Soal 78 Perempuan G1P0A0 usia 22 tahun dalam kala I aktif. Tiba-tiba nyeri perut sangat hebat mendadak seperti "tercabik." Uterus teraba keras seperti papan. DJJ tidak terdengar. Perdarahan pervaginam berwarna gelap. TD turun ke 80/50 mmHg.

Diagnosis yang paling tepat adalah…

  • A. Plasenta previa totalis

  • B. Solusio plasenta berat

  • C. Ruptur uteri

  • D. Perdarahan postpartum

  • E. Vasa previa

Jawaban: B Rasional: Trias solusio plasenta berat: (1) Nyeri abdomen hebat dan mendadak, (2) Uterus keras seperti papan (wooden uterus/board-like rigidity), (3) Perdarahan pervaginam berwarna gelap. Disertai DJJ tidak terdengar (kematian janin) dan syok hipovolemik. Ruptur uteri (C) biasanya disertai bentuk uterus tidak teratur dan bagian janin teraba di luar uterus.


Soal 79 Bidan melakukan partus spontan. Setelah kepala lahir, bidan melakukan penghisapan lendir: mulut terlebih dahulu, baru hidung.

Mengapa urutan mulut sebelum hidung ini penting secara klinis?

  • A. Mulut lebih banyak mengandung sekret sehingga harus dibersihkan lebih dulu

  • B. Menghisap hidung merangsang refleks inspirasi; jika mulut masih berisi sekret saat itu, sekret bisa terhisap masuk ke saluran napas bawah

  • C. Ini hanya kebiasaan tanpa dasar klinis yang jelas

  • D. Mulut lebih mudah diakses secara anatomis dibanding hidung

  • E. Standar WHO mewajibkan urutan ini tanpa alasan spesifik

Jawaban: B Rasional: Alasan klinisnya: stimulasi pada hidung merangsang refleks inspirasi bayi. Jika mulut masih berisi sekret saat refleks ini terjadi, sekret dapat terhisap ke paru menyebabkan aspirasi. Membersihkan mulut lebih dulu memastikan jalan napas oral bersih sebelum stimulasi napas via hidung dilakukan — ini prinsip keselamatan, bukan sekadar konvensi.


Soal 80 Ibu G4P3A0 usia 38 tahun baru melahirkan bayi ke-4. Setelah plasenta lahir lengkap: uterus teraba lembek, kontraksi buruk, perdarahan dari jalan lahir banyak. Tidak ada robekan jalan lahir.

Urutan tindakan pertama bidan yang paling tepat adalah…

  • A. Pasang IV line dan berikan cairan cepat

  • B. Berikan ergometrin IM segera

  • C. Lakukan masase uterus segera dan berikan oksitosin 10 IU IV/IM

  • D. Kompresi bimanual interna segera

  • E. Segera rujuk ke RS

Jawaban: C Rasional: Atonia uteri adalah penyebab PPP paling sering. Tatalaksana lini pertama: (1) Masase uterus (kompresi eksterna) untuk merangsang kontraksi, (2) Oksitosin 10 IU IM atau IV sebagai uterotonika lini pertama. Jika tidak respons dalam 15 menit, lanjut ke ergometrin (B) atau kompresi bimanual (D), kemudian misoprostol. Masase + oksitosin adalah tindakan mandiri bidan dan wajib dilakukan segera.


C. Asuhan Nifas & Postpartum (Soal 81–88)


Soal 81 Ibu P2A0 hari ke-1 postpartum mengeluh nyeri ringan di bawah perut saat menyusui. Uterus teraba keras setinggi pusat. Lochia rubra (+). Tidak demam.

Nyeri saat menyusui ini disebabkan oleh…

  • A. Infeksi nifas yang perlu segera diobati

  • B. After-pain: kontraksi uterus yang dirangsang oleh oksitosin yang dilepas saat menyusui

  • C. Robekan perineum yang belum sembuh

  • D. Kembalinya siklus menstruasi lebih awal

  • E. Gangguan psikologis baby blues

Jawaban: B Rasional: After-pain (kram pasca persalinan) adalah nyeri akibat kontraksi uterus normal postpartum. Saat bayi menyusu, rangsangan pada puting melepaskan oksitosin dari hipofisis posterior yang menyebabkan kontraksi uterus (let-down reflex sekaligus membantu involusi). Lebih sering dan lebih kuat pada multipara. Edukasikan kepada ibu bahwa ini adalah tanda involusi normal, bukan infeksi.


Soal 82 Bidan melakukan KN2 (kunjungan nifas hari ke-6) pada ibu P1A0, persalinan normal, menyusui eksklusif. Ibu terlihat sedih, menangis mudah, merasa tidak yakin bisa merawat bayi, sering lelah. Suami dan keluarga supportif. Tidak ada pikiran menyakiti diri sendiri atau bayi.

Kondisi ini paling sesuai dengan…

  • A. Depresi postpartum

  • B. Psikosis postpartum

  • C. Baby blues (maternity blues)

  • D. Kecemasan postpartum berat

  • E. Gangguan penyesuaian

Jawaban: C Rasional: Baby blues terjadi hari ke-3 hingga ke-10 postpartum: labilitas emosi ringan, menangis mudah, kecemasan ringan, kelelahan, tanpa gangguan fungsi berat atau pikiran menyakiti. Berbeda dari depresi postpartum (A) yang berlangsung >2 minggu dan mengganggu fungsi secara bermakna. Baby blues umumnya sembuh sendiri dalam beberapa hari dengan dukungan sosial yang adekuat.


Soal 83 Ibu P1A0 hari ke-5 nifas datang ke puskesmas: demam 38,8°C, nyeri tekan pada uterus, lochia berbau tidak sedap dan berwarna keruh kehijauan, volume lochia bertambah.

Diagnosis yang paling tepat adalah…

  • A. Mastitis

  • B. Endometritis

  • C. Infeksi luka perineum

  • D. Infeksi saluran kemih (ISK)

  • E. Tromboflebitis nifas

Jawaban: B Rasional: Endometritis adalah infeksi pada endometrium pasca persalinan. Tanda khas: demam ≥38°C (dalam 10 hari nifas, minimal 2 hari berturut-turut), nyeri tekan uterus, dan lochia purulenta (berbau, keruh). Ini adalah penyebab tersering morbiditas nifas. Penanganan: antibiotik spektrum luas (biasanya kombinasi ampisilin + gentamisin + metronidazol) dan rujukan jika kondisi berat.


Soal 84 Bidan melakukan kunjungan nifas hari ke-14 pada ibu P2A0 menyusui eksklusif. Ibu bertanya tentang KB.

Metode KB yang paling sesuai untuk ibu menyusui eksklusif saat ini adalah…

  • A. Pil kombinasi estrogen-progesteron (PKK)

  • B. Kontrasepsi darurat

  • C. IUD yang dipasang segera hari ini

  • D. Metode Amenore Laktasi (MAL) atau progesteron-only pill (mini pill)

  • E. Suntik DMPA 3 bulan

Jawaban: D Rasional: Kontrasepsi mengandung estrogen (PKK/COC) dihindari pada ibu menyusui karena dapat mengurangi produksi ASI. Pilihan yang aman: (1) MAL: efektivitas >98% jika menyusui eksklusif, belum haid, bayi <6 bulan — tiga syarat harus terpenuhi semua, (2) Mini pill (progesteron saja): tidak mengganggu laktasi, dapat dimulai segera. IUD (C) sebaiknya dipasang setelah 4 minggu postpartum (saat ini baru hari ke-14).


Soal 85 Ibu P1A0 hari ke-3 postpartum mengeluh puting lecet dan nyeri saat menyusui. Bayi menyusu 10x/hari. BB lahir 3.100 g, saat ini 3.000 g.

Penyebab paling sering puting lecet pada ibu menyusui adalah…

  • A. Infeksi Candida pada puting

  • B. Posisi dan perlekatan (latch-on) yang tidak tepat

  • C. Bayi menyusu terlalu sering

  • D. Produksi ASI berlebihan

  • E. Kulit puting yang sensitif secara bawaan

Jawaban: B Rasional: Posisi dan perlekatan yang tidak benar adalah penyebab tersering puting lecet. Saat latch-on tidak optimal (bayi hanya mengisap ujung puting, bukan areola), terjadi trauma mekanis berulang pada puting. Perlekatan yang benar: mulut bayi membuka lebar, menutupi sebagian besar areola, bibir bawah terlipat keluar, dagu menempel payudara. Koreksi teknik menyusui adalah intervensi utama, bukan menghentikan menyusui.


Soal 86 Bidan mengkaji involusi uteri pada kunjungan nifas. Pada hari ke-7 postpartum, TFU seharusnya berada di…

  • A. Setinggi pusat

  • B. 2-3 jari di bawah pusat

  • C. Pertengahan antara simfisis dan pusat

  • D. Sudah tidak teraba di atas simfisis

  • E. 1 jari di atas simfisis

Jawaban: C Rasional: Pola involusi uteri normal: Hari 1: setinggi pusat. Hari 3: 3 jari di bawah pusat. Hari 7: pertengahan simfisis-pusat. Hari 10-14: tidak teraba di atas simfisis (masuk rongga panggul). Uterus yang masih setinggi pusat pada hari ke-7 mengindikasikan subinvolusi yang perlu evaluasi lebih lanjut (endometritis, retensio sisa plasenta).


Soal 87 Ibu P2A0 hari ke-10 nifas datang dengan salah satu kaki kanan bengkak, merah, terasa panas, nyeri dipalpasi terutama di betis. Tanda Homan (+).

Kondisi yang paling mungkin dan penanganan awal yang tepat adalah…

  • A. Edema fisiologis nifas; elevasi kaki dan kompres dingin

  • B. Deep Vein Thrombosis (DVT); immobilisasi tungkai dan rujuk segera

  • C. Tromboflebitis superfisialis; kompres hangat dan analgetik

  • D. Selulitis; antibiotik oral dan observasi

  • E. Insufisiensi vena kronis; stoking kompresi

Jawaban: B Rasional: Tanda Homan (+) + nyeri, kemerahan, bengkak unilateral pada betis di masa nifas = tanda DVT postpartum. DVT adalah komplikasi tromboemboli serius akibat status hiperkoagulabel kehamilan yang berlanjut ke nifas. Penanganan: immobilisasi tungkai, rujuk ke RS untuk konfirmasi USG Doppler dan terapi antikoagulan (heparin). Bidan tidak memiliki kewenangan menangani DVT secara definitif.


Soal 88 Ibu P3A0 usia 40 tahun, hari ke-21 postpartum. Sedih mendalam, tidak mau merawat bayi, tidak mau makan, tidak bisa tidur lebih dari 3 minggu, dan sempat muncul pikiran "lebih baik bayi ini tidak pernah ada."

Kondisi ini mengarah ke…

  • A. Baby blues yang memanjang

  • B. Depresi postpartum

  • C. Psikosis postpartum

  • D. PTSD terkait persalinan

  • E. Kesedihan normal ibu baru

Jawaban: B Rasional: Depresi postpartum (PPD) ditegakkan jika gejala depresi mayor berlangsung >2 minggu pasca persalinan: mood depresif, anhedonia, gangguan tidur/makan, fungsi terganggu. Pikiran negatif tentang bayi ("lebih baik tidak ada") adalah tanda serius yang memerlukan asesmen risiko mendalam. PPD berbeda dari psikosis postpartum (C) yang ditandai halusinasi/waham dan sangat jarang. Rujuk ke psikiater segera.


D. Bayi Baru Lahir & Neonatus (Soal 89–94)


Soal 89 Bayi lahir spontan usia gestasi 39 minggu. Penilaian segera: bayi tidak menangis, tonus otot kurang, pernapasan megap-megap (gasping).

Tindakan pertama yang harus dilakukan adalah…

  • A. Berikan VTP (Ventilasi Tekanan Positif) segera

  • B. Nilai APGAR Score

  • C. Keringkan, hangatkan, rangsang taktil, dan posisikan ulang — kemudian nilai ulang dalam 30 detik

  • D. Pasang IV line dan berikan dekstrosa

  • E. Intubasi endotrakeal segera

Jawaban: C Rasional: Berdasarkan algoritma NRP (Neonatal Resuscitation Program), langkah awal selalu: (1) Keringkan dan rangsang taktil, (2) Hangatkan, (3) Posisikan (sniffing position), (4) Bersihkan jalan napas jika perlu. Setelah 30 detik, nilai ulang napas dan HR. Jika napas masih gasping atau HR <100x/menit, baru lakukan VTP. Langkah awal ini harus dilakukan sebelum intervensi lebih lanjut.


Soal 90 Bayi baru lahir usia 30 menit, aterm. Nadi 135x/menit, frekuensi napas 42x/menit, suhu aksila 36,8°C. Kulit kemerahan dengan akrosianosis (ujung jari sedikit biru).

Interpretasi temuan akrosianosis ini adalah…

  • A. Tanda sianosis sentral yang memerlukan suplementasi O₂ segera

  • B. Tanda distres pernapasan yang perlu intervensi

  • C. Normal dalam 24-48 jam pertama karena sirkulasi perifer belum matang

  • D. Tanda anemia neonatal

  • E. Manifestasi sepsis neonatorum dini

Jawaban: C Rasional: Akrosianosis (sianosis perifer — ujung jari, tangan, kaki) dalam 24-48 jam pertama adalah temuan normal pada neonatus aterm, disebabkan sirkulasi perifer yang belum matang dan vasokonstriksi fisiologis. Yang perlu diwaspadai adalah sianosis sentral (bibir, lidah, mukosa biru) yang mengindikasikan hipoksemia dan kemungkinan penyakit jantung bawaan sianotik.


Soal 91 Bidan memeriksa neonatus usia 24 jam. Ditemukan benjolan lunak berisi cairan di kepala yang melewati garis tengah/sutura, berbatas tidak tegas, tanpa perubahan warna kulit di atasnya.

Kondisi ini paling sesuai dengan…

  • A. Cephalohematoma

  • B. Caput succedaneum

  • C. Perdarahan subgaleal

  • D. Hidrosefalus

  • E. Kraniotabes

Jawaban: B Rasional: Caput succedaneum: benjolan lunak, berbatas tidak tegas, melewati sutura (garis tengah), akibat edema jaringan lunak subkutan karena tekanan jalan lahir. Menghilang dalam 24-48 jam. Berbeda dari cephalohematoma (A): berbatas tegas oleh sutura (tidak melewati sutura), akibat perdarahan subperiosteal, menghilang dalam 2-3 bulan. Perdarahan subgaleal (C) lebih serius dan dapat menyebabkan syok hipovolemik.


Soal 92 Bayi usia 72 jam dari ibu G1P0A0. Kulit kuning dari wajah hingga abdomen. Menyusu baik, aktif, tidak demam. Bilirubin total 12 mg/dL, bilirubin direk 0,4 mg/dL.

Kondisi ini adalah…

  • A. Ikterus patologis — perlu fototerapi segera

  • B. Ikterus fisiologis neonatal — observasi dan ASI on demand

  • C. Kolestasis neonatal — evaluasi lebih lanjut

  • D. Sepsis neonatorum — antibiotik segera

  • E. Inkompatibilitas ABO — pertimbangkan transfusi tukar

Jawaban: B Rasional: Ikterus fisiologis: muncul hari ke-2 hingga ke-3, bilirubin total <12,9 mg/dL pada aterm sehat (atau per zona Kramer belum melebihi zona III), bilirubin direk <2 mg/dL, bayi aktif dan menyusu baik. Kondisi ini tidak memerlukan fototerapi — cukup observasi dan optimasi frekuensi menyusui untuk mempercepat eliminasi bilirubin melalui tinja.


Soal 93 Bidan memeriksa refleks primitif neonatus. Saat satu jari disentuhkan ke telapak tangan bayi, bayi langsung menggenggam jari dengan kuat.

Refleks yang diperiksa ini adalah…

  • A. Refleks Moro

  • B. Refleks rooting

  • C. Refleks palmar grasp (menggenggam)

  • D. Refleks Babinski

  • E. Refleks stepping

Jawaban: C Rasional: Refleks palmar grasp: dirangsang dengan menyentuh telapak tangan — bayi menutup jari-jari menggenggam. Normal pada neonatus aterm, menghilang sekitar usia 3-4 bulan. Refleks Moro (A): respons terkejut — ekstensi-abduksi lalu fleksi. Rooting (B): kepala menoleh ke stimulus pada pipi. Babinski (D): dorsofleksi jari kaki saat telapak digores.


Soal 94 Ibu membawa bayi usia 5 hari ke puskesmas. Bayi tidak mau menyusu sejak kemarin, seluruh tubuh kaku, mulut mencucu seperti ikan (trismus), napas cepat tidak teratur. Riwayat: persalinan di rumah, tali pusat dipotong menggunakan bambu.

Diagnosis yang paling mungkin adalah…

  • A. Ikterus neonatorum berat

  • B. Hipoglikemia neonatal

  • C. Tetanus neonatorum

  • D. Meningitis bakterial

  • E. Sepsis neonatorum

Jawaban: C Rasional: Trias tetanus neonatorum: (1) Trismus (mulut sulit dibuka, mencucu), (2) Spasme/kekakuan otot menyeluruh, (3) Riwayat pemotongan tali pusat tidak steril (bambu/gunting kotor). Onset hari ke-3 hingga ke-14. Disebabkan Clostridium tetani yang masuk melalui luka tali pusat, menghasilkan tetanospasmin yang menghambat inhibisi saraf motorik. Ini adalah kedaruratan yang memerlukan rujukan segera ke RS.


E. Keluarga Berencana (Soal 95–98)


Soal 95 Perempuan usia 28 tahun, melahirkan 8 minggu lalu, tidak menyusui. Riwayat hipertensi, TD saat ini 155/100 mmHg. Merokok 10 batang/hari. Belum ingin hamil 3 tahun ke depan.

Metode KB yang paling aman direkomendasikan untuk ibu ini adalah…

  • A. Pil kombinasi (estrogen + progesteron)

  • B. Suntik kombinasi 1 bulan

  • C. IUD/AKDR (tembaga)

  • D. Implant (levonorgestrel)

  • E. Suntik DMPA 3 bulan

Jawaban: C Rasional: Ibu memiliki kontraindikasi absolut (WHO MEC Kategori 4) untuk kontrasepsi mengandung estrogen: hipertensi berat (TD ≥150/100) + perokok aktif = risiko kardiovaskular tinggi (stroke, tromboembolisme). IUD tembaga: tidak mengandung hormon, efektivitas >99%, jangka panjang (10-12 tahun), aman mutlak pada kondisi ini. Implant (D) mengandung progesteron saja — lebih aman dari COC, namun IUD tetap lebih direkomendasikan karena non-hormonal.


Soal 96 Akseptor DMPA 3 bulan datang ke puskesmas: tidak haid selama 3 bulan sejak suntikan pertama. Tidak ada keluhan lain.

Penjelasan yang paling tepat diberikan bidan adalah…

  • A. Ini tanda kehamilan, segera lakukan test kehamilan

  • B. Amenore adalah efek samping yang umum pada suntik DMPA, bukan tanda kehamilan, dan tidak berbahaya

  • C. Hentikan suntik DMPA karena ini pertanda gangguan hormonal

  • D. Rujuk ke dokter SpOG untuk evaluasi lanjutan

  • E. Berikan pil hormon untuk menginduksi haid

Jawaban: B Rasional: Amenore pada pengguna DMPA adalah efek samping yang sangat umum dan dapat diterima (acceptable side effect). Setelah 1 tahun penggunaan, sekitar 50-70% akseptor mengalami amenore. Disebabkan supresi progesteron terhadap endometrium. Bidan harus mengedukasi akseptor tentang hal ini sebelum suntikan pertama agar tidak menimbulkan kekhawatiran. Amenore bukan tanda kehamilan pada akseptor DMPA yang patuh.


Soal 97 Perempuan usia 32 tahun ingin menggunakan IUD. Siklus haid teratur 28 hari. HPHT 5 hari yang lalu. Tidak ada kontraindikasi.

Waktu paling tepat untuk pemasangan IUD pada kondisi ini adalah…

  • A. Segera pasang hari ini karena sudah dalam konsultasi

  • B. Tunggu hingga hari ke-1 haid berikutnya

  • C. 1-7 hari pertama siklus haid (masih dalam atau baru selesai haid) — kondisi saat ini memenuhi syarat

  • D. Setelah 6 minggu

  • E. Saat pertengahan siklus (hari ke-14)

Jawaban: C Rasional: Waktu optimal pemasangan IUD adalah hari ke-1 sampai ke-7 siklus menstruasi karena: (1) Dipastikan tidak hamil, (2) Serviks sedikit lebih terbuka, (3) Pemasangan lebih mudah dan nyeri lebih ringan. Ibu saat ini berada di hari ke-5 menstruasi — masih dalam window optimal sehingga pemasangan dapat dilakukan sekarang tanpa perlu menunggu siklus berikutnya.


Soal 98 Akseptor implant (Implanon, 3 tahun) datang karena masa pakai habis. Ingin ganti implant baru. Tidak ada keluhan, tidak ingin hamil.

Informasi yang harus diberikan bidan saat konseling sebelum pemasangan ulang adalah…

  • A. Implant baru dapat dipasang kapan saja termasuk saat menstruasi

  • B. Setelah pencabutan harus menunggu 3 bulan sebelum pemasangan baru

  • C. Kesuburan dapat kembali dalam beberapa minggu setelah implant dicabut — jika tidak ingin hamil, pastikan metode baru dipasang segera saat pencabutan

  • D. Implant generasi terbaru mengandung estrogen untuk efek lebih baik

  • E. Setelah 3 tahun, implant harus diganti dengan metode KB lain

Jawaban: C Rasional: Keunggulan implant dibanding suntik DMPA adalah reversibilitas cepat: setelah pencabutan, kadar progesteron turun cepat dan ovulasi dapat kembali dalam hitungan minggu. Bidan wajib menginformasikan ini agar akseptor memahami bahwa tanpa metode KB lain setelah pencabutan, kehamilan dapat terjadi segera. Implant pengganti dapat dipasang bersamaan dengan pencabutan (tidak perlu jeda 3 bulan). Implant mengandung progesteron saja, bukan estrogen.


F. Kegawatdaruratan Kebidanan (Soal 99–100)


Soal 99 Ibu G3P2A0 usia 35 tahun dalam kala II aktif. Tiba-tiba saturasi oksigen turun mendadak ke 78%, sesak berat, sianosis, TD turun ke 70/40 mmHg, nadi 130x/menit lemah. Ibu gelisah lalu kehilangan kesadaran. Tidak ada perdarahan eksternal signifikan.

Kondisi kegawatan yang paling mungkin terjadi adalah…

  • A. Emboli air ketuban (Amniotic Fluid Embolism/AFE)

  • B. Syok sepsis

  • C. Perdarahan postpartum masif

  • D. Eklampsia

  • E. Emboli paru (PE)

Jawaban: A Rasional: Emboli air ketuban (AFE) adalah komplikasi obstetrik bencana dengan pola khas: onset mendadak, hipoksemia berat, kolaps kardiovaskular, dan koagulopati (DIC). Sering terjadi saat persalinan atau segera postpartum. Tidak ada perdarahan eksternal signifikan (membedakan dari PPP). Syok mendadak + sesak mendadak + kehilangan kesadaran saat kala II adalah pola khas AFE. Mortalitas sangat tinggi — memerlukan resusitasi agresif tim multidisiplin.


Soal 100 Ibu P1A0 30 menit pasca persalinan. Perdarahan aktif dari jalan lahir ±600 mL. Plasenta sudah lahir lengkap. Uterus teraba lembek. Sudah diberikan oksitosin 10 IU IM dan masase uterus selama 15 menit, namun uterus masih tidak berkontraksi dengan baik.

Tindakan selanjutnya yang paling tepat adalah…

  • A. Berikan ergometrin 0,2 mg IM segera dan lakukan kompresi bimanual uterus

  • B. Tunggu 15 menit dan nilai ulang respons uterus

  • C. Berikan infus oksitosin saja dan pantau ketat

  • D. Langsung rujuk ke RS tanpa tindakan lanjutan di tempat

  • E. Berikan misoprostol rektal dan hubungi dokter

Jawaban: A Rasional: Perdarahan 600 mL dengan atonia uteri yang tidak respons terhadap oksitosin + masase (lini pertama) memerlukan eskalasi segera. Langkah selanjutnya: (1) Ergometrin 0,2 mg IM (uterotonika lini kedua) bersamaan dengan (2) Kompresi bimanual uterus (KBU) — kompresi manual untuk membantu kontraksi uterus secara mekanis. Sambil melakukan ini, pasang IV line dan siapkan rujukan. Menunggu 15 menit lagi (B) pada PPP aktif adalah tindakan yang berbahaya.


Cara Menggunakan Set Soal Ini Secara Efektif

Set soal retaker dirancang bukan untuk sekadar dijawab lalu dihitung benar-salah. Ada pendekatan yang lebih produktif, terutama bagi peserta yang sudah melewati satu siklus ujian dan ingin memahami mengapa menjawab salah, bukan hanya apa jawabannya.

Pertama, kerjakan setiap soal tanpa melihat kunci terlebih dahulu — idealnya dengan simulasi kondisi ujian (waktu terbatas, tanpa referensi). Ini melatih retrieval practice yang terbukti lebih efektif untuk retensi jangka panjang dibanding membaca ulang materi.

Kedua, setelah menyelesaikan satu bagian (misalnya seluruh soal KMB), baru buka kunci dan baca rasional secara menyeluruh — termasuk untuk soal yang Anda jawab benar. Soal yang dijawab benar dengan alasan yang salah sama berisikonya saat ujian nyata.

Ketiga, tandai soal dengan tiga kategori: ✓ (yakin benar), ? (tidak yakin tapi benar), dan ✗ (salah). Fokus sesi berikutnya pada kategori ? dan ✗ — di sinilah celah pemahaman sesungguhnya berada.

Keempat, untuk soal prioritas dan hierarki (soal 1, 3, 12, 19), latih ulang pola pikirnya secara eksplisit: "Mana yang mengancam jiwa lebih cepat? Mana yang mandiri dilakukan perawat/bidan vs perlu advis dokter?"

Selalu verifikasi informasi terkini melalui portal resmi UKOM dan pedoman PPNI/IBI terbaru, karena ketentuan blueprint dan regulasi dapat berubah setiap periode ujian.


Artikel ini menyajikan soal latihan orisinal yang dikembangkan berbasis referensi SDKI/SLKI/SIKI, standar PPNI, pedoman APN Kemenkes, dan prinsip klinis yang berlaku. Soal-soal ini bukan reproduksi soal ujian resmi UKOM.

Bagikan Artikel

Tautan Tersalin!
Newsletter